Di Kabupaten Sidoarjo, kursi roda menjadi bantuan yang paling diburu karena kebutuhan penyandang disabilitas masih jauh lebih besar daripada alat bantu yang sudah tersalurkan. Dari total 29.245 penyandang disabilitas, baru 14.330 orang yang menerima alat bantu, sedangkan 14.915 lainnya masih menunggu giliran.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memilih mendekati warga secara langsung agar bantuan tidak berhenti di meja administrasi. Pola ini dipakai untuk memastikan alat bantu benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal dalam hunian tidak layak.
Penyaluran dari rumah ke rumah
Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan distribusi alat bantu akan terus dilakukan secara berkesinambungan. Ia menyebut pemerintah daerah juga memantau kondisi warga di lapangan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima.
Pendekatan door to door menjadi pilihan karena pemerintah ingin melihat langsung keadaan warga yang membutuhkan perhatian lebih. Dengan cara itu, penyaluran kursi roda dan bantuan lain diharapkan tidak meleset dari sasaran.
Fokus pada kelompok rentan
Dinas Sosial Sidoarjo menempatkan program ini sebagai bagian dari perhatian terhadap kemiskinan ekstrem. Prioritas utama diberikan kepada warga yang masuk kategori Desil 1, yang jumlahnya disebut mencapai 8.807 orang.
Subandi menyebut bantuan harus mampu meringankan beban penerima sekaligus keluarganya. Karena itu, sasaran program tidak hanya warga disabilitas, tetapi juga mereka yang kondisinya paling rentan secara ekonomi dan tempat tinggal.
Data yang masih menunjukkan kekurangan
Meski penyaluran terus berjalan, kebutuhan alat bantu di Sidoarjo masih besar. Angka daftar tunggu yang mencapai 14.915 orang menunjukkan masih banyak warga disabilitas yang belum tersentuh bantuan secara penuh.
Selain kursi roda, Dinas Sosial juga menyalurkan alat bantu lain sesuai kebutuhan disabilitas. Bantuan itu mencakup alat bantu dengar untuk tunarungu dan fasilitas pendukung untuk tunanetra.
Pendataan diperkuat lewat petugas lapangan
Untuk menjangkau warga yang belum terdata atau belum terlayani, Dinas Sosial menggerakkan SLRT, tenaga relawan, dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan atau TKSK di tiap wilayah. Mereka mendata warga, mengusulkan penerima, lalu bantuan dieksekusi oleh Pemkab Sidoarjo.
Kepala Dinas Sosial Sidoarjo Mharta Wara Kusuma menilai strategi penyerahan bantuan dari rumah ke rumah penting untuk mengurangi kemiskinan ekstrem di daerah itu. Ia berharap pendekatan tersebut terus menjangkau warga yang selama ini belum tersentuh bantuan secara memadai.
Dengan pola ini, pemerintah daerah tidak hanya membagikan alat bantu, tetapi juga memastikan kehadiran negara terasa langsung di tengah warga yang paling membutuhkan perhatian. Pemerintah juga menegaskan penyaluran akan terus diarahkan agar warga rentan bisa segera mendapat alat bantu yang sesuai.