Di PGE Narodowy, Lukas Podolski menjadi sosok yang paling mencuri perhatian saat Górnik Zabrze menuntaskan penantian panjang selama 54 tahun tanpa gelar. Air mata Podolski pecah setelah timnya menang 2-0 atas Raków Częstochowa di final Piala Polandia 2026.
Kemenangan itu memberi arti besar bagi klub asal Zabrze, bukan hanya karena trofi, tetapi juga karena menjadi akhir dari masa paceklik yang sudah membayangi selama lebih dari setengah abad. Górnik tampil efektif dan menjaga permainan tetap rapi saat momen paling penting datang.
Bagi Podolski, malam tersebut terasa sangat pribadi. Pada usia 41 tahun, ia akhirnya mencapai target besar yang sejak lama ia sebut sebagai salah satu tujuan penting dalam kariernya.
Begitu peluit panjang berbunyi, Podolski langsung menangis di lapangan. Rekan-rekannya kemudian memeluknya di tengah suasana perayaan yang penuh haru, sementara sorotan tertuju pada emosinya yang begitu kuat.
Ikatan Podolski dengan Górnik memang sudah terbentuk sejak lama. Ia lahir di Gliwice, wilayah yang dekat dengan Zabrze, dan tumbuh sebagai pendukung klub itu sejak kecil.
Kepulangannya ke Polandia pada 2021 membawa makna khusus. Podolski datang dengan ambisi membantu klub masa kecilnya meraih kejayaan yang lama hilang, dan trofi ini menjadi jawaban atas harapan yang ia bawa sejak kembali.
Sebelum pulang ke Polandia, Podolski sudah membangun nama besar di Eropa bersama Arsenal dan Bayern Munich. Ia juga menjadi bagian dari skuad timnas Jerman yang menjuarai Piala Dunia FIFA 2014.
Meski telah meraih banyak pencapaian dalam karier, Podolski berulang kali menyebut trofi bersama Górnik sebagai ambisi profesional terakhirnya. Karena itu, gelar di PGE Narodowy terasa sangat istimewa dalam penutup perjalanan panjangnya di sepak bola.
Bagi para pendukung Górnik, hasil ini juga menjadi momen bersejarah yang lama dinanti. Kemenangan atas Raków Częstochowa bukan sekadar hasil final, melainkan penegasan bahwa penantian panjang mereka akhirnya berakhir.
Source: www.medcom.id