Antraks Bisa Menular Lewat Napas, Kemenkes Soroti APD Saat Penyembelihan Kurban

Di balik semarak pembagian daging kurban, ada satu hal yang tidak boleh longgar: cara menangani hewan, darah, dan limbahnya. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa panitia kurban dan petugas penyembelihan perlu disiplin memakai alat pelindung diri serta menjaga sanitasi untuk menekan risiko penyakit zoonosis, terutama antraks.

Ancaman itu tidak hanya muncul saat proses pemotongan berlangsung. Risiko dapat terbawa sejak tahap memilih hewan, saat pengangkutan, hingga pembersihan lokasi penyembelihan selesai dilakukan.

Risiko sudah muncul sejak hewan dipilih

Tahap awal kerap dianggap sepele, padahal justru di sini potensi bahaya bisa masuk. Masyarakat diminta tidak membeli hewan kurban yang tampak sakit atau memperlihatkan gejala tidak sehat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kontak langsung dengan hewan yang berpotensi terinfeksi dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Karena itu, tangan perlu segera dicuci dengan sabun setelah memegang hewan agar kebersihan tetap terjaga.

Perpindahan ternak juga perlu diawasi

Setelah pembelian, risiko belum hilang karena hewan biasanya dipindahkan dan ditampung bersama dari berbagai daerah. Pada fase ini, hewan yang sehat tidak boleh bercampur dengan hewan yang sakit.

Kebersihan kendaraan pengangkut ternak juga harus dijaga agar tidak menjadi media penyebaran penyakit. Bila ada hewan yang diduga sakit, Kemenkes meminta agar segera dilaporkan ke dinas peternakan.

Penyembelihan adalah titik paling rawan

Bagian yang dinilai paling berisiko adalah penyembelihan dan pencacahan daging. Pada tahap ini, petugas bersentuhan langsung dengan darah dan limbah hewan sehingga perlindungan diri menjadi sangat penting.

Kemenkes meminta petugas memakai minimal empat alat pelindung diri, yaitu celemek atau apron, masker, sarung tangan, dan sepatu bot. Masker penting karena antraks dapat menular lewat inhalasi atau saluran pernapasan, sedangkan sarung tangan dan sepatu bot membantu mengurangi kontak langsung dengan darah, kotoran, dan area kaki.

Lokasi kerja dan limbah tidak boleh dibiarkan sembarangan

Penyembelihan sebaiknya dilakukan di atas permukaan semen atau papan, bukan langsung di tanah. Cara ini membantu mengendalikan kontaminasi yang dapat muncul selama proses pemotongan.

Darah hasil sembelihan disarankan dialirkan ke lubang khusus dan tidak dibuang ke sungai maupun badan air lain. Limbah padat seperti organ dalam dan kotoran hewan juga harus dikubur dengan baik agar tidak memicu penularan antraks.

Pembersihan akhir menentukan keamanan lingkungan

Setelah seluruh proses selesai, area penyembelihan tidak cukup hanya disiram. Lokasi tersebut perlu dibersihkan lalu didesinfeksi agar bakteri tidak bertahan di lingkungan.

Kemenkes juga meminta limbah cair seperti darah dipisahkan dari limbah padat seperti isi perut dan kotoran supaya pembersihan lebih efektif. Pengawasan kebersihan lokasi setelah kurban menjadi bagian penting untuk menurunkan risiko penularan pada petugas maupun masyarakat sekitar.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version