Bank Indonesia menilai dana asing yang terus mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI menjadi sinyal bahwa instrumen rupiah masih punya daya tarik di tengah pasar yang bergejolak. Hingga 18 Mei 2026, kepemilikan asing di SRBI mencapai Rp 221,59 triliun atau 24,04% dari total outstanding, jauh melampaui posisi akhir 2025 yang sekitar Rp 114,1 triliun.
Lonjakan itu terjadi saat tekanan eksternal masih membayangi rupiah. Di saat yang sama, total nilai SRBI juga ikut naik menjadi Rp 921,88 triliun dari Rp 730,90 triliun pada akhir tahun lalu, sehingga instrumen ini makin penting bagi upaya menyerap likuiditas dan menjaga stabilitas pasar keuangan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut penguatan struktur suku bunga menjadi bagian dari strategi bank sentral untuk mempertahankan minat terhadap aset rupiah. Menurut dia, kenaikan imbal hasil SRBI diarahkan agar investasi portofolio asing tetap masuk ke pasar domestik.
Daya tarik itu terlihat dari komposisi kepemilikan asing yang meningkat pesat dalam beberapa bulan. Porsi tersebut menunjukkan SRBI masih mampu bersaing dengan berbagai pilihan investasi lain di tengah volatilitas pasar global.
Tekanan global belum mereda
Perry menjelaskan, tekanan global masih berasal dari konflik di Timur Tengah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan arus keluar modal dari negara berkembang. Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia mengandalkan instrumen moneter berbasis pasar untuk menjaga rupiah tetap stabil.
Nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 tercatat di level Rp 17.700 per dolar AS. Posisi itu melemah sekitar 2,20% secara point to point dibandingkan akhir April 2026.
Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward offshore, pasar spot, dan domestic non-deliverable forward di dalam negeri. Langkah ini berjalan bersamaan dengan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
Hingga 19 Mei 2026, total pembelian SBN oleh Bank Indonesia mencapai Rp 140,57 triliun. Dari jumlah itu, Rp 73,28 triliun berasal dari pasar sekunder dan ikut membantu menjaga likuiditas pasar.
Suku bunga dinaikkan untuk stabilisasi
Dalam RDG 19-20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25%, sedangkan lending facility meningkat menjadi 6,00%.
Perry menyebut penyesuaian itu sebagai kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan merespons gejolak global yang masih tinggi. Kebijakan tersebut juga bersifat pre-emptive agar inflasi tetap terkendali.
Bank sentral melihat rupiah masih berpeluang kembali stabil dan cenderung menguat ke depan. Pandangan itu didukung oleh komitmen menjaga stabilitas pasar, imbal hasil domestik yang masih menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai solid.
Di tengah tekanan luar negeri yang belum reda, SRBI tetap menjadi salah satu instrumen andalan Bank Indonesia untuk menjaga aliran dana masuk dan mempertahankan kepercayaan terhadap aset rupiah. Kenaikan dana asing di instrumen itu memperlihatkan pasar masih merespons positif kebijakan moneter domestik.
Source: www.beritasatu.com




