Ayam Petelur BUMDes Cikeas Mulai Menggerakkan Ekonomi Desa Wisata, Omzet Capai Rp 1 Juta Sehari

Di Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, roda ekonomi warga mulai bergerak lewat kombinasi yang jarang dipakai sekaligus: desa wisata, digitalisasi usaha, dan BUMDes ayam petelur. Di tengah upaya itu, penggerak yang paling terasa justru datang dari unit usaha desa yang sudah mulai menyumbang perputaran uang di tingkat warga.

BUMDes ayam petelur menjadi salah satu titik penting karena hasil produksinya tidak berhenti di level usaha desa. Telur yang dipanen ikut diserap pelaku UMKM kuliner di Cikeas, sehingga kebutuhan bahan baku warga dan usaha desa saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi lokal.

Dari wisata ke penguatan ekonomi warga

Pemerintah Desa Cikeas tidak hanya menyiapkan citra sebagai desa wisata. Arah yang dibangun juga mencakup penguatan usaha lokal agar manfaat ekonomi tidak hanya bergantung pada kunjungan, tetapi juga pada aktivitas bisnis warga sehari-hari.

Karena itu, digitalisasi dijadikan salah satu jalur utama. Pemerintah desa ingin produk warga lebih mudah ditemukan, lebih mudah dijual, dan tidak berhenti di pasar lokal.

Dorongan itu makin kuat setelah ada kunjungan pihak BRI yang melihat potensi digitalisasi pelaku usaha di Cikeas. Setelah itu, pemerintah desa bergerak melengkapi administrasi, termasuk memfasilitasi pembukaan rekening perbankan atas nama BUMDes.

Pelatihan harian dan pembekalan usaha

Aparatur desa kemudian mengikuti pelatihan intensif selama kurang lebih dua minggu. Materinya meliputi produk perbankan, manajemen BUMDes, dan strategi pengembangan untuk pelaku UMKM.

Hasan Sadili, Kaur Perencanaan Desa Cikeas, menjelaskan tahapan tersebut dijalankan bertahap, mulai dari administrasi hingga pelatihan harian. Menurut dia, digitalisasi diarahkan agar nama usaha lokal masuk ke ekosistem pencarian Google dan lebih mudah ditemukan pengguna internet.

Pendampingan itu juga menyentuh sisi pemasaran yang lebih praktis. Pemerintah desa membantu pembuatan akun Instagram, pendaftaran pada aplikasi pengantaran makanan, dan penggunaan platform e-commerce untuk usaha non-kuliner agar jangkauan pasar bisa meluas ke luar desa.

Puluhan UMKM masuk pembinaan khusus

Dari total 200 pelaku usaha yang masuk database desa, pemerintah desa memilih 20 UMKM untuk pembekalan tambahan. Program itu diberi nama Pasar Raya UMKM Desa Cikeas dan difokuskan pada penjenamaan serta teknik pengemasan produk.

Sebagian besar usaha warga Cikeas bergerak di sektor kuliner, terutama makanan olahan berbasis tepung. Pembinaan ini membantu warga memahami digitalisasi sekaligus memperluas distribusi produk mereka.

Pendekatan tersebut membuat promosi wisata dan penguatan usaha lokal berjalan beriringan. Desa tidak diposisikan hanya sebagai lokasi kunjungan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas.

BUMDes ayam petelur mulai menghasilkan

Di antara berbagai langkah itu, unit usaha BUMDes yang bergerak di peternakan ayam petelur menjadi sorotan tersendiri. Hasan menyebut BUMDes mulai berjalan sejak Oktober 2025 setelah desa mengikuti Desa BRILiaN pada Juli-Agustus.

Operasional peternakan dijalankan oleh 10 orang yang terdiri dari pengurus dan karyawan. Sejak Februari 2026, produktivitas unit usaha itu menunjukkan tren kenaikan yang positif.

Peternakan tersebut mencatat omzet sekitar Rp 1 juta per hari dengan keuntungan bersih mencapai Rp 10 juta per bulan. Dari keuntungan itu, 25 persen disetorkan sebagai sumbangan untuk Pendapatan Asli Desa atau PADes.

Kapasitas produksi telur harian berada di kisaran 40 hingga 70 kilogram. Hasil panen langsung diserap pelaku UMKM kuliner di Desa Cikeas, sehingga perputaran ekonomi terjadi di dalam desa sendiri.

Hasan mengatakan stok telur bahkan kerap habis dan tidak selalu dapat memenuhi permintaan dari luar. Situasi itu menunjukkan produk BUMDes sudah memiliki pasar yang hidup di lingkungan desa.

Perbankan ikut memperkuat aktivitas warga

Selain dari desa, dukungan juga datang dari layanan perbankan di sekitar permukiman. Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI menjadi instrumen permodalan yang paling banyak diakses warga sekitar.

Kehadiran AgenBRILink di area pemukiman juga memudahkan transaksi harian, termasuk menabung tanpa harus datang ke kantor cabang bank. Mantri BRI Unit Cimahpar, Win Zikra, menjelaskan bahwa layanan perbankan di Desa Cikeas mencakup permodalan dan edukasi finansial.

BRI juga terus mendorong penggunaan aplikasi BRImo untuk efisiensi transaksi. Win menilai adaptasi digital perbankan oleh warga meningkat sejak desa mengikuti program pembinaan terpadu.

Ia berharap kerja sama desa dan perbankan ke depan makin kuat, baik dalam sektor permodalan maupun edukasi digital untuk UMKM. Sementara itu, pemerintah desa menargetkan pengelolaan ekosistem wisata Cikeas bisa lebih terarah mulai tahun 2026 agar manfaat ekonominya semakin terasa bagi warga.

Exit mobile version