Baterai Solid-State Nissan Siap Mengubah EV di Indonesia, Jarak Tempuh Naik dan Harga Bisa Lebih Ramah

Pasar mobil listrik di Indonesia berpotensi mendapat opsi baru yang lebih kompetitif dari Nissan. Pabrikan asal Jepang itu sedang menyiapkan kendaraan listrik berbasis baterai solid-state yang ditargetkan masuk produksi massal pada tahun fiskal 2028.

Arah pengembangan ini menarik perhatian karena solid-state menawarkan dua hal yang paling dicari konsumen, yaitu jarak tempuh yang lebih jauh dan waktu pengisian yang lebih singkat. Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, Nissan memiliki peluang menghadirkan EV yang tidak hanya lebih praktis, tetapi juga lebih dekat ke kisaran harga mobil bermesin bensin.

Baterai yang jadi fokus utama

Nissan menempatkan baterai solid-state atau all-solid-state battery sebagai inti dari generasi berikutnya untuk kendaraan listrik. Teknologi ini diklaim memiliki kepadatan energi hingga dua kali lipat dibanding baterai lithium-ion konvensional.

Dalam penggunaan harian, klaim itu berarti mobil listrik bisa menempuh jarak lebih jauh dalam satu kali pengisian daya. Di saat yang sama, proses pengisian juga disebut bisa berlangsung lebih cepat hingga sepertiga dibanding teknologi baterai yang umum dipakai saat ini.

Harga ikut dibidik lebih rendah

Selain soal performa, Nissan melihat solid-state sebagai teknologi yang berpotensi menekan biaya produksi. Efek lanjutannya, harga mobil listrik bisa dibuat mendekati mobil berbahan bakar bensin.

Bagi pasar Indonesia, poin ini sangat penting karena harga masih menjadi salah satu pertimbangan utama ketika konsumen memilih mobil listrik. Teknologi yang bisa mendorong biaya lebih efisien tentu akan mendapat perhatian besar, terutama di tengah persaingan antarmerek yang semakin ketat.

Produksi massal belum instan

Meski targetnya sudah jelas, Nissan tidak bergerak dengan pendekatan tergesa-gesa. Perusahaan itu menetapkan produksi massal kendaraan listrik berbasis solid-state pada tahun fiskal 2028, sekaligus menunjukkan bahwa pengembangannya sudah masuk jalur yang lebih terukur.

Nissan juga menegaskan bahwa proses menuju tahap tersebut dilakukan lewat pengujian bertahap. Langkah ini penting karena baterai solid-state memang menjanjikan, tetapi dari sisi manufaktur masih menuntut kesiapan yang matang.

Yokohama jadi tempat uji produksi

Sebagai persiapan teknis, Nissan membangun jalur produksi percontohan di pabrik Yokohama, Jepang. Fasilitas ini direncanakan mulai beroperasi pada awal 2025 untuk menguji efisiensi produksi sekaligus performa baterai secara langsung.

Pilot line itu menjadi pijakan penting sebelum masuk ke produksi massal. Dari sana, Nissan bisa menilai apakah teknologi tersebut dapat diproduksi secara konsisten, efisien, dan sesuai target biaya.

Bisa dipakai lintas segmen

Nissan tidak menyiapkan solid-state hanya untuk satu model tertentu. Teknologi ini direncanakan bisa diterapkan di berbagai segmen, mulai dari mobil sport hingga pickup.

Ruang penggunaan yang luas membuat solid-state tidak berhenti pada mobil kompak atau kendaraan premium saja. Bahkan, ada rumor bahwa teknologi ini akan dipakai pada penerus Nissan GT-R, meski belum ada detail resmi yang dibuka.

Indonesia tetap masuk radar

Meski belum ada pengumuman resmi mengenai model solid-state khusus Indonesia, arah strateginya tetap mengarah ke pasar domestik. Nissan sebelumnya sudah membawa beberapa kendaraan listrik ke Indonesia untuk uji coba, termasuk Nissan Ariya sebagai SUV listrik premium dan Nissan Sakura sebagai mobil listrik kompak.

Kehadiran dua model itu menjadi penanda bahwa Indonesia masuk dalam radar pengembangan pasar EV Nissan. Jika baterai solid-state benar-benar siap diproduksi, pasar yang sedang tumbuh seperti Indonesia bisa menjadi tujuan yang sangat logis untuk langkah berikutnya.

Berikut poin utama dari teknologi yang sedang disiapkan Nissan:

  1. Teknologi: baterai solid-state.
  2. Target produksi massal: tahun fiskal 2028.
  3. Kepadatan energi: hingga dua kali lipat dibanding lithium-ion.
  4. Kecepatan pengisian: lebih cepat hingga sepertiga.
  5. Aplikasi: berbagai segmen, termasuk sport dan pickup.
  6. Lokasi uji coba produksi: Yokohama, Jepang.

Jika seluruh rencana itu tercapai, konsumen Indonesia berpotensi mendapat EV yang menawarkan jarak tempuh lebih panjang, pengisian lebih singkat, dan harga yang lebih bersaing. Nissan Ariya serta Nissan Sakura juga memperlihatkan bahwa pasar Indonesia tetap punya tempat dalam strategi elektrifikasi Nissan.

Baca Juga

Back to top button