Beban Bunga Menahan Laba CUAN, Lonjakan Pendapatan Belum Sepenuhnya Menjadi Untung

Kinerja Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN pada kuartal I-2026 memperlihatkan kombinasi yang kontras. Pendapatan perusahaan melesat 73,57 persen secara tahunan menjadi US$371,33 juta, tetapi laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya naik ke US$5,69 juta atau setara Rp99,01 miliar karena biaya yang masih menekan.

Salah satu penopang utama pertumbuhan tetap datang dari batu bara. Segmen pertambangan dan penjualan batu bara menyumbang US$238,71 juta, hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya, sehingga menjadi motor terbesar dalam laju ekspansi CUAN.

Di luar batu bara, perusahaan juga mendapat pemasukan dari bisnis rekayasa dan konstruksi sebesar US$106,43 juta. Ada pula kontribusi dari sektor EPCI minyak dan gas lepas pantai senilai US$13,59 juta, yang menunjukkan sumber pendapatan CUAN tidak bertumpu pada satu lini saja.

Namun, pertumbuhan penjualan yang kuat belum sepenuhnya mengalir ke laba akhir. Beban pokok pendapatan naik menjadi US$315,06 juta dari US$197,01 juta, sehingga ruang peningkatan profit bersih ikut tertekan.

Beban keuangan juga masih menjadi ganjalan. Analisis PintarSaham mencatat beban keuangan perusahaan berada di level US$27,3 juta, yang ikut menahan laju kenaikan laba bersih meski pendapatan operasional tumbuh cepat.

Akibat tekanan biaya tersebut, margin laba bersih CUAN hanya berada di 1,47 persen. Artinya, sebagian besar pendapatan masih terserap untuk menutup biaya operasional dan pembayaran bunga.

Meski begitu, beberapa indikator operasional masih bergerak positif. Berdasarkan data laporan keuangan per 30 April 2026, laba kotor CUAN naik menjadi US$56,266 juta dan laba usaha mencapai US$31,026 juta.

Dari sisi neraca, perusahaan masih membawa beban leverage yang besar. Total aset CUAN tercatat US$2,75 miliar, sementara liabilitasnya mencapai US$2,12 miliar, sehingga rasio utang terhadap ekuitas atau DER berada di 3,39 kali.

Kondisi itu membuat pasar tetap mencermati struktur utang CUAN, walaupun likuiditas jangka pendek masih terlihat cukup aman. Current ratio perusahaan berada di 1,74 kali, yang menandakan kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek masih terjaga.

Di pasar saham, CUAN juga masih diperdagangkan pada valuasi yang mahal. Pada penutupan 29 April 2026, sahamnya berada di level Rp1.300 per lembar dengan Price to Earnings Ratio atau PER 423,1 kali.

Valuasi setinggi itu mencerminkan ekspektasi besar pasar terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Pada saat yang sama, angka tersebut juga menuntut CUAN menjaga pertumbuhan secara konsisten agar kepercayaan investor tetap kuat.

Dengan kombinasi pendapatan yang naik tajam, kontribusi kuat dari batu bara, dukungan bisnis rekayasa dan konstruksi, serta tambahan dari EPCI minyak dan gas lepas pantai, CUAN masih berada dalam fase ekspansi agresif. Tantangan utamanya tetap ada pada biaya bunga, beban utang, dan kemampuan menjaga margin agar pertumbuhan pendapatan bisa lebih cepat diterjemahkan menjadi laba bersih.

Exit mobile version