Biaya Memori Naik Tajam, GoPro Terguncang Di Tengah Penjualan Yang Melemah

Tekanan terhadap GoPro kini datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, biaya memori melonjak tajam akibat ledakan komputasi AI, sementara di sisi lain penjualan perusahaan masih menunjukkan pelemahan.

Kondisi itu membuat produsen kamera aksi tersebut menyampaikan keraguan besar atas kemampuannya untuk terus beroperasi. Dalam dokumen yang diajukan ke US Securities and Exchange Commission pada Senin, GoPro menyebut ada “substantial doubt” atas statusnya sebagai going concern.

Beban terbesar datang dari perangkat keras memori yang kini jauh lebih mahal. GoPro memperkirakan biaya komponen itu naik sekitar 80 persen hingga 110 persen, seiring pasokan dari vendor ikut mengetat karena pusat data AI menyerap lebih banyak sumber daya.

Lonjakan harga tersebut tidak berdiri sendiri. Permintaan besar dari sektor AI telah mengguncang rantai pasok elektronik yang lebih luas, dan GoPro ikut terkena dampaknya pada saat yang kurang menguntungkan bagi bisnisnya.

Penjualan belum pulih

Masalah harga komponen muncul ketika performa pasar GoPro juga belum membaik. Perusahaan melaporkan perlambatan penjualan selama April dan Mei 2026, yang menambah tekanan pada kondisi keuangannya.

Pada kuartal pertama, pendapatan GoPro turun 26 persen. Angka itu menunjukkan bahwa tantangan perusahaan tidak hanya berasal dari biaya produksi yang naik, tetapi juga dari permintaan konsumen yang masih melemah.

Situasi ini menjadi lebih sulit karena perusahaan sedang berupaya menjaga ruang gerak keuangan di tengah tekanan pasar. GoPro kini mencari pendanaan untuk menghindari potensi gagal bayar dan terus berdiskusi dengan mitra pemberi pinjaman.

Produk baru ikut menambah beban

Di tengah tekanan biaya dan penjualan, GoPro juga menghadapi masalah pada lini produknya. MAX2, kamera 360 derajat milik perusahaan, mengalami peluncuran yang bermasalah dan tertunda pada September 2025.

Gangguan seperti itu biasanya mahal bagi perusahaan yang sedang berusaha memulihkan pertumbuhan. Saat momentum peluncuran tersendat, peluang untuk mendorong penjualan ikut terhambat dan tekanan terhadap hasil keuangan semakin besar.

GoPro selama ini dikenal sebagai merek besar di pasar kamera aksi konsumen. Nama perusahaan itu pernah identik dengan atlet, petualang, dan kreator konten, sehingga peringatan soal kelangsungan usaha kali ini terasa sangat mencolok.

Efisiensi belum cukup meredakan tekanan

Untuk menekan biaya, GoPro pada April mengumumkan rencana pemangkasan hampir seperempat tenaga kerjanya. Langkah itu diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk kembali mencetak profit.

PHK tersebut akan memengaruhi sekitar 145 karyawan, atau sekitar 23 persen dari total tenaga kerja GoPro yang berjumlah 631 orang. Menurut dokumen perusahaan, pemutusan hubungan kerja itu dapat menelan biaya hingga $15 million dalam bentuk pesangon dan tunjangan kesehatan.

GoPro memperkirakan pelaksanaan PHK berlangsung pada kuartal kedua 2026, dengan sebagian besar pengurangan selesai pada akhir tahun. Ini juga bukan gelombang efisiensi pertama, karena perusahaan sebelumnya sudah melakukan dua putaran PHK terpisah sepanjang 2024.

Rangkaian langkah itu menunjukkan tekanan pada bisnis GoPro sudah berlangsung cukup lama. Kini, perusahaan harus menghadapi biaya memori yang melonjak sekaligus permintaan konsumen yang belum kembali kuat.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version