Bitcoin Depot, salah satu nama besar di bisnis ATM kripto, tak lagi mampu menahan tekanan yang datang dari berbagai arah. Perusahaan itu memilih menghentikan operasional dan masuk ke perlindungan kebangkrutan Chapter 11 setelah gelombang aturan baru di sejumlah negara bagian AS mengubah peta bisnisnya.
Langkah tersebut menandai pukulan besar bagi model usaha yang sempat tumbuh sangat cepat. Setahun sebelumnya, Bitcoin Depot masih mengoperasikan 9.276 kios yang memungkinkan pelanggan menukar uang tunai menjadi Bitcoin di AS, Kanada, dan Australia.
Aturan makin ketat, bisnis makin sempit
CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyebut aturan di tingkat negara bagian kini jauh lebih berat untuk dipatuhi. Menurut dia, sejumlah yurisdiksi memberlakukan batasan transaksi baru, sementara sebagian lainnya bahkan bergerak ke arah pembatasan hingga larangan langsung terhadap operasi BTM atau Bitcoin ATM.
Holmes juga menilai meningkatnya litigasi dan penegakan aturan ikut memberi tekanan tambahan. Ia mengatakan perubahan regulasi terbaru sudah terasa langsung pada kondisi keuangan perusahaan dan membuat model bisnis Bitcoin Depot tidak lagi bertahan.
Pendapatan turun, rugi membesar
Tekanan dari sisi regulasi datang bersamaan dengan penurunan kinerja usaha yang tajam. Dalam laporan kuartal I 2026, pendapatan Bitcoin Depot turun 49% secara tahunan.
Pada periode yang sama, perusahaan membukukan kerugian US$9,5 juta setelah sebelumnya mencatat laba US$12,2 juta. Laba kotor juga merosot sangat dalam, turun 85% menjadi US$45 juta.
Kondisi keuangan yang memburuk itu memperkuat keputusan manajemen untuk menutup operasional. Dalam pengajuan pailit sukarela ke Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas, Bitcoin Depot menyatakan akan menjual aset-asetnya.
Sorotan hukum ikut menekan
Selain berhadapan dengan aturan baru, Bitcoin Depot juga terseret masalah hukum. Perusahaan ini menghadapi gugatan tingkat tinggi yang dipimpin jaksa agung di Massachusetts dan Iowa atas tuduhan memfasilitasi penipuan kripto.
Sorotan terhadap operator ATM kripto memang sedang meningkat. Hal itu terjadi setelah kerugian akibat penipuan mencapai rekor US$389 juta pada tahun lalu, naik 58% dibandingkan 2024.
Kondisi tersebut membuat risiko operasional bagi pelaku bisnis ATM kripto ikut naik. Di tengah biaya kepatuhan yang membengkak dan tekanan penegakan hukum yang makin kuat, ruang gerak perusahaan menjadi semakin sempit.
Dampaknya merembet ke luar AS
Kebangkrutan Bitcoin Depot tidak berhenti di pasar Amerika Serikat. Entitas perusahaan di Kanada ikut dimasukkan ke dalam proses peradilan kebangkrutan di AS.
Sementara itu, entitas non-AS lainnya akan ditutup secara bertahap sesuai regulasi di masing-masing negara. Artinya, penyusutan jaringan perusahaan ini berlangsung lintas negara, bukan hanya di satu pasar.
Di saat yang sama, industri kripto secara umum justru masih mendapat dorongan dari adopsi institusional lewat instrumen seperti ETF. Namun, perkembangan Clarity Act menjadi latar yang kontras ketika bisnis ATM kripto justru terhimpit aturan yang semakin ketat.
Source: www.cnbcindonesia.com




