Bukan Cuma Menenangkan, Membaca Buku Sebelum Tidur Ternyata Menyokong Otak dan Tidur Lebih Nyenyak

Membaca buku sebelum tidur sering dianggap sekadar cara menutup hari dengan tenang. Padahal, kebiasaan sederhana ini juga dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih baik, stres yang lebih rendah, dan dukungan bagi fungsi otak.

Di tengah rutinitas yang serba cepat, membaca dapat menjadi jeda singkat yang membantu tubuh dan pikiran beralih dari mode sibuk ke mode istirahat. Karena manfaatnya menyentuh banyak sisi, aktivitas ini menarik perhatian peneliti bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai kebiasaan yang punya dampak kesehatan.

Tidur lebih tenang dengan bacaan yang tepat

Salah satu manfaat yang paling banyak dibahas muncul saat membaca dilakukan menjelang tidur. Sejumlah penelitian menyebut kebiasaan ini dapat memperpanjang durasi tidur dan membantu meredakan insomnia.

Jenis media yang dipilih juga berpengaruh. Buku fisik lebih disarankan dibanding membaca lewat ponsel karena cahaya layar bisa mengganggu produksi melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh tertidur.

Otak tetap aktif, risiko kematian menurun

Dari sisi kognitif, membaca buku punya kaitan yang cukup kuat dengan kesehatan jangka panjang. Studi dari peneliti di Yale University School of Public Health menemukan bahwa membaca buku dapat menurunkan risiko kematian hingga 20 persen.

Temuan itu juga menunjukkan bahwa orang yang membaca buku cenderung memiliki usia lebih panjang dibanding mereka yang lebih sering membaca majalah atau koran. Para peneliti menduga imajinasi yang bekerja saat membaca ikut menjaga otak tetap aktif.

Ada pula temuan lain yang menyebut pembaca fiksi yang meluangkan setidaknya 30 menit setiap hari bisa menambah rata-rata dua tahun usia. Namun, manfaat semacam ini lebih terkait dengan kebiasaan yang dilakukan rutin, bukan efek instan.

Efek pada stres dan emosi

Membaca juga memberi ruang bagi otak untuk berhenti sejenak dari tekanan harian. Saat seseorang tenggelam dalam cerita, beban pikiran bisa mereda dan suasana hati menjadi lebih stabil.

Beberapa studi menunjukkan membaca fiksi dapat memperbaiki emosi, meningkatkan rasa bahagia, dan memperkuat empati. Penelitian lain yang dilaporkan pada tahun 2022 juga menyebut kebiasaan ini berkaitan dengan peningkatan mindfulness, optimisme, dan kebahagiaan.

Pada saat yang sama, membaca dikaitkan dengan penurunan depresi, kecemasan, dan emosi negatif. Karena itu, aktivitas ini kerap dipandang sebagai cara sederhana untuk membantu kesehatan mental tetap seimbang.

Kebiasaan kecil yang memberi dampak luas

Manfaat membaca buku tidak berhenti pada satu aspek saja. Aktivitas ini menyentuh tidur, kondisi emosi, dan fungsi otak dalam waktu yang sama.

Itulah sebabnya membaca layak dipandang sebagai kebiasaan sehat yang mudah dijalankan di rumah. Dengan rutinitas yang konsisten, terutama sebelum tidur, kebiasaan ini bisa menjadi cara praktis untuk membantu tubuh lebih rileks dan pikiran lebih siap beristirahat.

Source: www.beautynesia.id

Baca Juga

Back to top button