Bukan Sekadar Pegal, Nyeri Payudara Saat Menyusui Bisa Menandakan Mastitis

Bagi ibu menyusui, nyeri pada payudara sering dianggap sebagai bagian dari kelelahan sehari-hari. Padahal, keluhan itu juga bisa menjadi tanda mastitis, yaitu peradangan pada jaringan payudara yang perlu dikenali lebih cepat agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Perubahan pada payudara biasanya tidak berhenti pada rasa sakit saja. Bila area yang nyeri ikut tampak merah, bengkak, terasa berat, dan sangat sensitif saat disentuh atau saat menyusui, kondisi tersebut patut dicurigai sebagai gangguan yang memerlukan perhatian lebih.

Membedakan sumbatan ASI dan mastitis

Dalam proses menyusui, sumbatan ASI dan mastitis berada dalam satu rangkaian masalah yang saling berkaitan. Sumbatan terjadi saat ASI terjebak karena aliran tidak lancar, sedangkan mastitis adalah peradangan yang bisa muncul akibat sumbatan yang terus dibiarkan atau masuknya bakteri melalui celah pada puting.

Pada tahap awal, kedua kondisi ini memang bisa terasa mirip. Namun, saat peradangan berkembang, keluhan lokal biasanya tidak lagi berdiri sendiri karena gejala sistemik seperti demam dan menggigil mulai muncul.

Tanda yang perlu diwaspadai sejak awal

Dr. Natalia Maria Christina, Sp. B, mengingatkan ibu menyusui untuk memperhatikan apakah nyeri hanya muncul di satu area payudara atau sudah disertai demam, menggigil, dan tubuh terasa tidak enak. Keluhan yang menetap atau justru memburuk tidak sebaiknya dianggap remeh.

Payudara yang makin merah, mengeras, dan sangat nyeri saat disentuh juga menjadi sinyal penting. Jika nyeri lokal mulai dibarengi badan menggigil, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan lebih cepat.

Langkah awal yang bisa dilakukan di rumah

Penanganan yang cepat penting agar sumbatan ASI tidak berkembang menjadi mastitis. Salah satu langkah utama adalah tetap menyusui supaya payudara yang sakit kosong secara berkala dan tekanan di dalam payudara berkurang.

Kompres hangat dapat digunakan beberapa menit sebelum menyusui atau memerah ASI. Setelah menyusui selesai, kompres dingin bisa membantu meredakan nyeri dan mengurangi bengkak.

Pijatan juga dapat membantu melancarkan aliran ASI, tetapi harus dilakukan dengan sangat lembut. Pijatan yang terlalu keras justru berisiko merusak jaringan yang sedang meradang dan memperburuk kondisi payudara.

Posisi menyusui dan kondisi tubuh ikut berperan

Selain mengosongkan payudara, posisi menyusui dan perlekatan bayi juga perlu diperhatikan. Perlekatan yang baik membantu pengosongan ASI lebih optimal dan dapat mengurangi risiko puting lecet yang bisa menjadi pintu masuk bakteri.

Istirahat yang cukup juga penting dalam proses pemulihan. Tubuh yang terlalu lelah dapat menurunkan daya tahan, sementara ibu menyusui tetap membutuhkan hidrasi yang baik agar kondisi tubuh lebih stabil.

Kapan perlu segera memeriksakan diri

Bila sumbatan ASI tidak membaik dalam 24–48 jam, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Hal yang sama berlaku jika demam tinggi, kemerahan meluas, dan badan menggigil mulai muncul.

Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri dan radang yang aman untuk ibu menyusui. Jika mastitis disebabkan infeksi bakteri, antibiotik spesifik dapat diberikan dan harus diminum sampai habis sesuai instruksi.

Pemeriksaan juga penting untuk memastikan tidak ada komplikasi yang lebih serius. Mastitis yang terlambat ditangani bisa berkembang menjadi abses atau penumpukan nanah di payudara, dan pada kondisi ini penanganan biasanya memerlukan tindakan kecil untuk mengeluarkan nanah.

Ibu menyusui yang mengalami payudara makin nyeri, memerah, mengeras, dan disertai demam sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Penanganan yang tepat membantu proses menyusui tetap berlangsung dengan aman dan mengurangi risiko masalah lanjutan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version