Bukan Sekadar Suka Karakter, Fictosexuality Mengaburkan Batas Antara Fantasi Dan Cinta Nyata

Ketika sebagian orang menaruh rasa pada karakter anime, gim, manga, atau figur virtual, yang muncul bukan sekadar kekaguman biasa. Pada titik tertentu, ikatan itu bisa berubah menjadi keterikatan emosional yang bertahan lama, bahkan terasa seperti hubungan nyata.

Fenomena ini dikenal sebagai fictosexuality, istilah yang kini makin sering dibahas di tengah budaya digital yang membuat tokoh fiksi selalu hadir di layar. Para peneliti melihatnya sebagai bentuk kedekatan yang lebih kompleks daripada sekadar menyukai karakter favorit.

Batas tipis antara suka dan terikat

Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology dan tersedia melalui PubMed Central menjelaskan fictosexuality sebagai keterikatan emosional, romantis, atau seksual yang kuat terhadap karakter yang tidak nyata. Konsep ini berdekatan dengan hubungan parasosial, yaitu hubungan emosional satu arah dengan figur fiksi atau figur publik.

Perbedaannya terletak pada intensitas dan daya tahannya. Jika rasa suka biasa pada karakter sering berganti seiring cerita berakhir, fictosexuality bisa bertahan selama bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari kehidupan emosional seseorang.

Mengapa tokoh fiksi terasa begitu nyata

Psikoterapis dan seksolog Chloe Scotney, seperti dikutip CNN, menyebut ketertarikan pada karakter fiksi sebagai sesuatu yang wajar. Karakter fiksi memang dirancang untuk memancing emosi lewat sifat lucu, cerdas, perhatian, pemberani, atau misterius.

Bahkan tokoh antagonis bisa ikut terasa menarik karena sisi gelapnya diromantisasi dalam cerita. Bagi sebagian orang, tokoh seperti ini terasa lebih aman untuk dikagumi karena tidak bisa menolak, mengkritik, atau menyakiti balik.

Scotney juga menyoroti bahwa dunia fiksi dapat menjadi ruang aman untuk mengenali ketertarikan dan identitas diri. Lewat anime, serial, buku, atau gim, seseorang bisa memahami tipe kepribadian yang disukai dan dinamika hubungan yang dirasa cocok.

Saat kedekatan itu masuk ke kehidupan sehari-hari

Dalam bentuk yang lebih kuat, fictosexuality tidak berhenti pada rasa kagum. Seseorang dapat terus membayangkan hubungan romantis jangka panjang dengan tokoh tertentu dan merasakan ikatan yang sangat kuat, meski hubungan itu hanya hidup dalam imajinasi dan ruang digital.

Ekspresi perasaan ini juga muncul dalam banyak cara di komunitas daring. Ada yang menulis fan fiction romantis, menggambar pasangan imajinatif, mengoleksi merchandise, merayakan ulang tahun karakter, atau memakai teknologi virtual untuk memperkuat kedekatan yang dirasakan.

Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah Akihiko Kondo dari Jepang. Ia secara terbuka menyatakan menikahi karakter virtual Hatsune Miku dan mengaku sudah lama tidak menginginkan pasangan manusia.

Bukan otomatis gangguan mental

Meski terdengar tidak lazim, fictosexuality tidak otomatis dikategorikan sebagai gangguan mental. WHO dan American Psychiatric Association tidak memasukkan fictophilia atau fictosexuality sebagai diagnosis gangguan mental.

Patrick McGrath dari NOCD menjelaskan bahwa minat seperti ini tidak perlu dianggap patologis selama tidak mengganggu kehidupan diri sendiri maupun orang lain. Menurut dia, persoalan baru muncul jika seseorang meyakini hubungan dengan karakter fiksi itu bersifat timbal balik.

Dalam kondisi seperti itu, batas antara fiksi dan realitas bisa kabur. Para ahli membedakan jelas antara keterikatan satu arah dan keyakinan yang sudah masuk wilayah delusi.

Istilah yang mirip, tetapi tidak sama

Dalam kajian akademik, fictosexuality juga dibedakan dari fictoromance. Fictosexuality menekankan ketertarikan seksual terhadap karakter fiksi, sedangkan fictoromance lebih mengarah pada ketertarikan romantis tanpa unsur seksual.

Perbedaan ini membantu menjelaskan bahwa ketertarikan pada tokoh fiksi tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama. Ada yang terikat secara romantis, ada juga yang menaruh minat seksual, sementara sebagian lainnya merasakan keduanya sekaligus.

Mengapa pembahasannya terus membesar

Perkembangan internet, fandom global, media digital, kecerdasan buatan, dan dunia virtual ikut membuat topik ini semakin terlihat. Karakter dalam anime dan gim kini hadir makin kompleks dan emosional, sehingga garis antara hiburan dan kedekatan personal semakin sulit diabaikan.

Bagi sebagian orang, tokoh fiksi tidak lagi hanya menjadi bagian dari hiburan. Mereka juga menjadi tempat aman untuk menaruh rasa, harapan, dan bayangan tentang hubungan ideal yang terasa paling dekat dengan diri sendiri.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button