China Makin Menjauhkan Nvidia Dari Pasar Chip AI, Huawei Makin Kokoh Di Dalam Negeri

Huawei kini berada di posisi yang paling diuntungkan saat pasar chip AI di China berubah arah. Di saat Nvidia masih kuat secara global, perusahaan asal AS itu justru mengakui bahwa mereka sudah “kebobolan besar” di China.

Pengakuan itu datang dari Jensen Huang, yang menilai ekosistem chip lokal China kini berjalan sangat solid. Menurut dia, celah yang ditinggalkan Nvidia telah dimanfaatkan Huawei untuk memperkuat kemampuan chip AI sendiri dan menguasai ruang yang kosong di pasar lokal.

Huawei isi ruang yang ditinggalkan Nvidia

Huang menyebut Huawei “sangat, sangat kuat” dan bahkan mencatat kinerja tahunan yang memecahkan rekor. Ia juga menegaskan bahwa Nvidia praktis sudah terpinggirkan setelah perusahaan itu meninggalkan pasar tersebut.

Pergeseran ini tidak lepas dari pembatasan ekspor chip AI canggih dari Amerika Serikat. Batasan itu justru mempercepat penguatan ekosistem domestik China karena perusahaan lokal mendapat ruang lebih besar untuk berkembang.

Permintaan di China sendiri masih besar, tetapi pasar tersebut kini bergerak dengan tumpuan yang berbeda. Huawei menjadi salah satu pemain utama yang mengisi kekosongan tersebut, sementara Nvidia kehilangan pijakan pentingnya.

Lisensi ekspor mengubah peta persaingan

Titik balik terbesar datang ketika pemerintahan Trump memberi tahu Nvidia pada April lalu bahwa perusahaan memerlukan lisensi untuk mengekspor chip ke China dan beberapa negara lain. Sejak saat itu, Nvidia efektif tersingkir dari salah satu pasar data center terpentingnya.

Sebelumnya, pasar China menyumbang setidaknya seperlima pendapatan data center Nvidia. Setelah pembatasan makin ketat, posisi itu berubah drastis dan membuka jalan lebih lebar bagi pesaing lokal.

Nvidia pun mengaku tidak memasang harapan besar atas peluang pembukaan kembali pasar tersebut dalam waktu dekat. Huang mengatakan perusahaan sudah meminta investor agar tidak menaruh ekspektasi terhadap persetujuan penjualan chip canggih ke China.

Peluang kembali masih ada, tetapi sempit

Meski nada Huang terdengar pesimistis, pintu untuk kembali melayani pasar China belum sepenuhnya tertutup. Ia menegaskan Nvidia akan sangat senang jika bisa kembali menjual produknya di sana ketika kondisi memungkinkan.

Huang juga mengingatkan bahwa Nvidia sudah beroperasi di China selama 30 tahun dan masih memiliki banyak pelanggan serta mitra di negara itu. Artinya, pasar China tetap penting bagi Nvidia meski aksesnya kini sangat terbatas.

Ia baru saja ikut dalam pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping di Beijing pada pekan lalu setelah diajak di menit-menit terakhir. Namun, pertemuan itu belum memberi kepastian apakah chip H200 Nvidia akan diizinkan masuk ke China.

Nvidia tetap tumbuh di luar China

Di tingkat global, Nvidia masih menunjukkan performa yang sangat kuat. Perusahaan melaporkan pendapatan melonjak 85% menjadi US$81,62 miliar pada awal 2026 dibandingkan periode sebelumnya.

Nvidia juga mengumumkan rencana buyback senilai US$89 miliar dan menaikkan pembayaran dividen. Namun, Huang tetap menyebut hilangnya pasar China sebagai kerugian besar bagi perusahaan.

Di tengah tekanan geopolitik, Nvidia terus memperluas rantai pasokannya secara agresif. Huang menyebut langkah itu sebagai peluang pertumbuhan besar dalam ekonomi AI yang lebih luas.

Ia menggambarkan industri AI sebagai “kue lima lapis” yang mencakup energi, chip, infrastruktur, model, dan aplikasi. Menurut dia, Nvidia berinvestasi di seluruh lapisan itu agar pertumbuhan perusahaan bisa terus mengikuti lonjakan permintaan.

Huang juga mengatakan bahwa saat kas perusahaan terus bertambah, prioritas utamanya adalah mendukung pemasok agar rantai pasok mampu mengejar ekspansi Nvidia. Di saat perusahaan itu masih memburu pertumbuhan besar secara global, China justru menjadi pasar yang paling sulit untuk dijangkau.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version