Citroen sedang menyiapkan kebangkitan nama 2CV dalam bentuk yang jauh berbeda dari wujud aslinya. Mobil yang dulu identik dengan kesederhanaan itu akan berubah menjadi hatchback listrik kecil dengan target harga yang dibuat seramah mungkin untuk pasar Eropa.
Langkah ini menarik perhatian karena 2CV bukan sekadar nama lama yang dipakai ulang. Citroen ingin membawa kembali citra mobil rakyat yang fungsional dan murah dipakai, tetapi dengan pendekatan yang disesuaikan untuk era kendaraan listrik.
Bukan nostalgia murni
Wujud baru 2CV disebut masih akan mengambil inspirasi dari siluet lengkung khas model klasiknya. Bocoran tampilan yang sudah diperlihatkan menampilkan bentuk bulat dan ceria, meski Citroen tidak memilih jalur retro murni.
Pabrikan asal Prancis itu justru tampak menggabungkan proporsi klasik dengan bahasa desain dari konsep baru dan mobil listrik modern. Hasilnya diarahkan agar tetap terasa akrab bagi penggemar lama, tetapi tidak jatuh menjadi replika masa lalu.
Kepala Citroen, Xavier Chardon, menyebut mobil ini sebagai “a true people’s car designed for real life.” Ia juga mengakui bahwa model tersebut termasuk salah satu dari tujuh mobil baru Citroen yang akan meluncur hingga 2030.
Harga jadi senjata utama
Versi konsep 2CV baru dijadwalkan tampil pada Paris Motor Show musim gugur ini. Setelah itu, versi produksi direncanakan masuk pasar pada 2028 dengan harga di bawah €15.000.
Bila angka itu tercapai, 2CV baru akan langsung masuk jajaran mobil listrik termurah di Eropa. Posisinya bahkan disebut berada di bawah Dacia Spring, Renault Twingo, dan BYD Dolphin Surf.
Strategi harga ini sejalan dengan arah baru Stellantis untuk menghadirkan mobil listrik yang lebih kecil dan lebih murah di Eropa. Grup tersebut juga berencana memproduksi 2CV baru di Italia, di jalur yang sama dengan city car Fiat bernuansa nostalgia yang terinspirasi dari Panda asli.
Pasar yang sedang memberi ruang
Rencana Citroen muncul ketika pasar Eropa kembali membuka peluang bagi mobil listrik kecil. Regulator di kawasan itu sedang mempertimbangkan insentif untuk mobil listrik kompak yang dibuat secara lokal.
Di saat yang sama, minat terhadap mobil kecil bernuansa retro juga sedang menguat. Keberhasilan model listrik seperti Renault 5 menunjukkan bahwa pembeli masih menyukai mobil mungil yang punya karakter, selama tetap praktis dan terjangkau.
Karena itu, 2CV baru tidak hanya dibaca sebagai proyek nostalgia. Citroen tampaknya ingin mengubah nama legendaris itu menjadi kendaraan listrik yang masih relevan untuk kebutuhan harian.
Nama lama, peran baru
2CV klasik dulu dikenal sebagai mobil yang mengutamakan fungsi, kemudahan, dan biaya pakai rendah. Reputasi itu kini menjadi modal penting saat Citroen mencoba menghidupkannya lagi dalam format EV murah.
Mobil aslinya juga punya citra santai di jalan, sampai mendapat julukan “tin snail” karena akselerasi 0-62 mph atau 100 km/jam-nya membutuhkan sekitar 30 detik. Citroen tampaknya ingin mengganti kesan lambat itu dengan nilai baru yang lebih cocok untuk era listrik.
Jika semua rencana itu terwujud, nama 2CV berpeluang kembali punya tempat penting sebagai mobil rakyat di Eropa. Bedanya, kali ini peran itu akan dijalankan oleh hatchback listrik kecil yang mengandalkan harga rendah dan karakter yang tetap mudah dikenali.
Source: www.carscoops.com