Pertarungan soal Clarity Act kini menjadi arena baru bagi bank-bank besar Amerika untuk menahan laju industri kripto. Di Washington, tekanan itu tidak hanya datang dari lembaga keuangan, tetapi juga dari perdebatan yang akan menentukan siapa yang paling berwenang mengatur pasar aset digital di AS.
Pusat taruhannya ada pada pembagian kewenangan antarlembaga pengawas. Rancangan aturan ini hendak menempatkan Commodity Futures Trading Commission sebagai pengawas utama pasar kripto, bukan Securities and Exchange Commission, sehingga isi akhirnya dipandang sangat penting oleh pelaku industri maupun sektor perbankan.
Bank besar mendukung, tetapi tidak sepenuhnya setuju
American Banking Association dan bank-bank besar pada dasarnya mendukung pengesahan Clarity Act. Namun, mereka menolak bagian yang memberi ruang bagi perusahaan kripto menawarkan imbalan kepada pelanggan melalui stablecoin.
Bagi mereka, skema itu terlalu mirip bunga pada rekening tabungan, tetapi tanpa perlindungan konsumen yang wajib dipenuhi bank. Trish Wexler, juru bicara JPMorgan Chase, mengatakan bank mendukung pengesahan RUU tersebut dengan beberapa perbaikan, terutama larangan reward atas kepemilikan stablecoin dan penguatan pagar anti-pencucian uang.
Jamie Dimon menjadi salah satu suara paling keras dalam penolakan itu. Bos JPMorgan Chase tersebut menilai ketentuan yang ada memungkinkan perusahaan seperti Coinbase “secara efektif membayar bunga atas simpanan” tanpa perlindungan yang semestinya.
Dimon dan Coinbase saling berseberangan
Kritik Dimon juga diarahkan langsung kepada Brian Armstrong dan Coinbase. Ia menolak gagasan bahwa perusahaan kripto bisa diperlakukan seperti bank, tetapi tidak memikul beban pengawasan yang sama.
Coinbase membalas dengan argumen bahwa produk keuangan memang tidak selalu harus diperlakukan seragam. Faryar Shirzad, chief policy officer perusahaan itu, mengatakan produk yang berbeda memang diatur secara berbeda, seperti rekening pialang di Charles Schwab atau kartu Starbucks yang tidak diperlakukan sebagai rekening bank.
Perbedaan pandangan itu membuat Clarity Act bukan hanya soal kripto, tetapi juga soal batas antara inovasi keuangan dan aturan lama perbankan. Di mata bank besar, jika sebuah perusahaan bertindak seperti bank, maka aturan bank juga harus mengikatnya.
Kekhawatiran bank soal insentif dan perlindungan nasabah
Bank-bank besar memandang insentif pada stablecoin dapat menjadi alat untuk menarik dana pelanggan secara agresif. Mereka khawatir crypto exchange bisa menawarkan hadiah besar lebih dulu, lalu memangkas manfaat itu setelah nasabah terlanjur masuk.
Kekhawatiran lain menyangkut perlindungan simpanan. Dana yang tersimpan di crypto exchange tidak diasuransikan pemerintah federal seperti simpanan bank, sehingga risiko itu dianggap mudah tidak disadari pelanggan sampai terlambat.
Dimon juga menilai standar anti-pencucian uang dan know-your-customer dalam RUU tersebut belum sekuat aturan yang selama ini diterapkan bank. Dari sudut pandang sektor perbankan, masalahnya bukan hanya persaingan bisnis, tetapi juga lapisan perlindungan yang harus mengikuti bentuk layanan keuangan yang ditawarkan.
RUU ini juga memicu penolakan dari luar sektor perbankan
Kritik terhadap Clarity Act tidak berhenti di bank. Hilary Allen, profesor hukum di American University yang fokus pada perbankan dan kripto, menyebut RUU itu bukan sekadar soal aset digital, melainkan deregulasi besar atas pasar surat berharga.
Allen menilai dampaknya bisa menjalar ke semua orang, termasuk mereka yang tidak berinvestasi di kripto. Ia juga memperingatkan bahwa bila krisis keuangan terjadi di ruang ini, tidak ada pihak yang benar-benar bisa lolos tanpa dampak.
Senator Elizabeth Warren turut menolak keras rancangan itu. Ia menilai Clarity Act membuka “musim bebas” bagi investor kripto karena menghapus perlindungan level negara bagian terhadap penipuan.
Tekanan menjelang pemungutan suara Senat
RUU tersebut sudah lolos di DPR dan diperkirakan akan dibawa ke pemungutan suara di lantai Senat dalam beberapa pekan ke depan. Situasi ini membuat bank-bank besar semakin aktif mendorong perubahan isi aturan sebelum momen voting tiba.
Di sisi lain, perdebatan juga makin panas karena rivalitas pribadi antara Dimon dan Armstrong ikut terseret ke ruang publik. Armstrong mengatakan dirinya bingung dengan serangan Dimon, meski tetap menyebut ia menghormati bos JPMorgan itu.
Armstrong juga menilai RUU tersebut pada akhirnya akan baik untuk bank. Namun, dengan bank-bank besar kini bergerak menekan isi aturan, Clarity Act justru berubah menjadi titik benturan yang mempertemukan kepentingan perbankan, industri kripto, dan para pengawas di Senayan Amerika.





