Como Tembus Liga Champions Untuk Pertama Kali, Klub Hartono Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Kejutan terbesar Liga Italia musim ini datang dari Como 1907, klub milik Keluarga Hartono melalui Grup Djarum, yang kini memastikan tempat di Liga Champions musim depan. Kepastian itu lahir setelah Como menutup musim dengan kemenangan telak 4-1 atas USC Cremonese dan mengunci posisi keempat klasemen akhir.

Hasil tersebut membuat Como mengoleksi 71 poin dari 38 laga. Mereka pun resmi bergabung dengan Inter Milan, Napoli, dan AS Roma sebagai wakil Liga Italia di turnamen antarklub paling elite di Eropa.

Pencapaian ini terasa jauh lebih besar karena Como sebelumnya tidak banyak dijagokan di Liga Italia. Namun sepanjang musim, tim ini justru menjaga kestabilan permainan dan hanya menelan tujuh kekalahan.

Catatan itu bahkan lebih baik dibanding beberapa klub mapan seperti Napoli, AS Roma, dan AC Milan. Dari situ, posisi Como di papan atas bukan lagi sekadar kejutan sesaat, melainkan hasil dari performa yang konsisten.

Di balik lonjakan ini, ada peran besar Cesc Fabregas dalam membentuk identitas tim. Como tidak membangun skuad yang bergantung pada satu atau dua pemain bintang, melainkan menyeimbangkan pengalaman dan energi muda di berbagai lini.

Nama-nama seperti Alvaro Morata, Sergi Roberto, dan Alberto Moreno memberi pondasi pengalaman di dalam tim. Sementara itu, kehadiran Jesus Rodriguez dan Nico Paz memberi warna baru yang membuat permainan Como lebih segar dan kolektif.

Kombinasi tersebut membuat permainan Como terlihat rapi dari lini ke lini. Intensitas tim juga tetap terjaga karena kontribusi pemain muda berjalan seiring dengan ketenangan para pemain berpengalaman.

Pada laga terakhir, peran lini serang langsung terlihat melalui gol Jesus Rodriguez, Antastasios Douvikas, dan dua gol dari Lucas da Cunha. Kemenangan besar itu menutup perjalanan musim dengan cara yang paling sempurna bagi klub asal Italia utara tersebut.

Masuknya Como ke empat besar juga memperlihatkan bahwa persaingan Liga Italia kini semakin terbuka. Klub yang tidak bertumpu pada belanja besar tetap bisa menantang tim-tim tradisional yang selama ini lebih sering mendominasi.

Dalam konteks itu, keberhasilan Como bukan hanya soal tiket ke Liga Champions. Pencapaian ini sekaligus menegaskan bahwa perencanaan skuad, disiplin taktik, dan kekompakan tim masih bisa menghasilkan lompatan besar di level tertinggi.

Source: bola.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button