Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis menghasilkan paket kerja sama bernilai besar yang langsung menyentuh sektor energi dan pertahanan. Total komitmen baru yang diumumkan mencapai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun.
Kabar itu tidak hanya menambah nilai diplomasi ekonomi Indonesia–Prancis, tetapi juga memperlihatkan arah kerja sama yang semakin konkret. Dari pengembangan migas, energi bersih, hingga rencana pabrik radar, rangkaian kesepakatan ini memberi bobot baru bagi hubungan kedua negara.
Empat kesepakatan yang menjadi sorotan
Dari seluruh paket yang diumumkan, ada empat kesepakatan utama yang paling menonjol. Keempatnya mencakup diplomasi bisnis, pengembangan energi, dan penguatan industri pertahanan.
Kesepakatan pertama datang dari Kadin Indonesia dan MEDEF International yang meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council melalui penandatanganan MoU. Forum ini disiapkan sebagai wadah dialog tingkat tinggi untuk mengawal komitmen investasi dan perdagangan.
Kesepakatan kedua melibatkan Pertamina dan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara. Kolaborasi ini fokus pada pengembangan teknologi migas dan energi bersih, termasuk enhanced oil recovery, migas nonkonvensional, digitalisasi, AI, efisiensi biaya, CCS, minimisasi flare, dan energi panas bumi.
Energi jadi area kolaborasi yang paling luas
Pertamina juga menandatangani kerja sama dengan TotalEnergies. Ruang lingkupnya mencakup hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, bisnis rendah karbon, studi bersama, hingga pengembangan kilang hijau.
Dua kerja sama itu menunjukkan bahwa pembahasan energi tidak berhenti pada produksi minyak dan gas. Arah kolaborasinya juga bergeser ke teknologi baru, transisi energi, dan pengurangan emisi karbon.
Kerja sama Pertamina dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara menekankan penerapan teknologi skala besar di aset Pertamina. Sementara itu, kemitraan dengan TotalEnergies membuka jalur lebih lebar untuk LNG, biofuel, energi terbarukan, serta CCS/CCUS dan bisnis rendah karbon.
Radar dan industri pertahanan ikut menguat
Di sektor pertahanan, Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent dengan Thales. Kerja sama ini mencakup rencana pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia”, tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta pelatihan radar.
Kesepakatan tersebut menambah dimensi lain dari hasil lawatan Prabowo ke Prancis. Ruang lingkup kemitraannya juga memperkuat proyek industri pertahanan yang sebelumnya sudah berjalan antara PT Len dan Thales.
Kerja sama itu tidak hanya berkaitan dengan radar pertahanan udara. Di dalamnya juga terdapat unsur antariksa dan sistem tempur TNI AL, sehingga hubungan industri strategis kedua negara tampak terus berkembang.
Forum bisnis dorong target jangka panjang
Paket kesepakatan besar ini lahir dari Forum CEO Indonesia–Prancis yang sekaligus meluncurkan France-Indonesia High Level Business Council atau FI-HLBC. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha besar dari Indonesia dan Prancis, dengan Prabowo serta Presiden Prancis Emmanuel Macron hadir menyaksikan langsung.
Presiden Prabowo melihat kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis sebagai sinyal penting bagi perekonomian Indonesia. Ia menilai partisipasi itu menunjukkan minat yang kuat untuk ikut terlibat dalam pengembangan ekonomi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut FI-HLBC sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Menurut dia, forum itu mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 triliun.
Rosan juga menilai forum tersebut bukan sekadar ruang dialog. Ia menyebut pertemuan itu sebagai sarana untuk mendorong investasi dan perdagangan, sekaligus memperlihatkan bahwa kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia masih sangat besar.
Arah kerja sama tidak berhenti di satu pertemuan
Kadin Indonesia dan MEDEF International sepakat menggelar forum tahunan secara bergantian di Jakarta dan Paris. Kedua pihak juga akan mengadakan rapat koordinasi tingkat wakil setiap kuartal agar kerja sama tetap berjalan konsisten.
Melalui forum itu, Indonesia dan Prancis menargetkan perdagangan bilateral naik tiga kali lipat pada 2035 dari posisi USD 2,6 miliar saat ini. Target tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara diarahkan untuk jangka panjang, bukan hanya proyek sesaat.
Dengan total komitmen mencapai USD 3,5 miliar, hasil lawatan Prabowo ke Prancis mempertemukan kepentingan investasi, energi, dan pertahanan dalam satu paket kerja sama. Rangkaian itu membuat hubungan Indonesia dan Prancis bergerak ke arah kolaborasi yang lebih dalam dan lebih luas.
Source: www.medcom.id




