Di tengah sorotan publik terhadap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, nama Ngatawi Al-Zastrow ikut mencuri perhatian. Sosok yang dikenal di kalangan Nahdlatul Ulama itu ternyata adalah suami Arifah dan memiliki perjalanan panjang di dunia budaya, akademik, dan gerakan kebangsaan.
Ketenaran nama Ngatawi menguat ketika pernyataan Arifah mengenai penataan gerbong wanita di kereta api menuai perdebatan luas. Usulan itu muncul setelah kecelakaan kereta di Bekasi yang melibatkan banyak korban perempuan di gerbong khusus, sehingga perhatian publik ikut meluas ke latar belakang keluarga sang menteri.
Budayawan NU yang lama berkarya di Lesbumi
Ngatawi Al-Zastrow dikenal sebagai budayawan yang menjadikan kebudayaan sebagai sarana dakwah. Ia membawa pendekatan Islam yang damai dan mudah diterima masyarakat, sehingga namanya cukup dikenal di lingkungan NU.
Salah satu kiprah terbesarnya terlihat saat ia memimpin Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia atau Lesbumi PBNU. Ia menjabat sebagai ketua lembaga itu selama lebih dari 10 tahun, sebuah periode yang menempatkannya sebagai figur penting dalam pengembangan seni dan budaya di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Pendekatan yang ia pilih tidak bertumpu pada dakwah formal semata. Ia justru menonjolkan kebudayaan sebagai ruang untuk menyampaikan nilai keislaman yang lebih membumi dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pernah berada di lingkaran Gus Dur
Nama Ngatawi juga menonjol karena kedekatannya dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam perjalanan hidupnya, ia disebut pernah menjadi asisten tokoh nasional tersebut.
Pengalaman itu memperkuat citranya sebagai figur yang lama bergerak di persimpangan pemikiran Islam, kebudayaan, dan kebangsaan. Karena itu, namanya dikenal bukan hanya di kalangan pegiat seni, tetapi juga di ruang intelektual yang lebih luas.
Aktif di dunia kampus dan seni
Selain di organisasi budaya, Ngatawi juga aktif di ranah akademik. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia, lembaga yang berfokus pada pengembangan seni dan budaya.
Posisi tersebut menunjukkan keterlibatannya yang kuat di lingkungan kampus. Peran itu juga menegaskan bahwa aktivitasnya tidak berhenti di organisasi, melainkan masuk ke institusi pendidikan tinggi.
Latar pendidikannya pun mendukung perjalanan itu. Ia menempuh pendidikan sejak kecil di pesantren sebelum melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor sosiologi dari Universitas Indonesia.
Perpaduan pendidikan pesantren dan akademik membentuk profil yang lengkap. Ia memiliki pijakan keagamaan sekaligus perspektif ilmiah dalam membaca persoalan sosial dan budaya.
Jejak panjang Arifah Fauzi di organisasi
Di sisi lain, Arifah Fauzi juga memiliki rekam jejak organisasi yang panjang. Ia lahir di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada 28 Juli 1969, namun masa sekolahnya dijalani di Jakarta.
Arifah menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah As Syafiiyah Jatiwaringin. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga dan lulus pada 1994.
Pendidikan tingginya berlanjut ke Universitas Indonesia, tempat ia meraih gelar Magister Komunikasi pada 2002. Studi magister itu ditempuh melalui beasiswa Ford Foundation.
Jejak organisasinya sudah terbentuk sejak muda. Ia pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri NU DIY pada akhir 1980-an, lalu berlanjut menjadi Sekjen Fatayat NU dan Sekretaris Pimpinan Pusat Muslimat NU.
Saat ini, Arifah dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama periode 2025-2030. Ia juga aktif di Majelis Ulama Indonesia.
Masuk kabinet setelah aktif di politik
Keterlibatan Arifah di ranah politik juga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Ia terlibat dalam tim kampanye nasional pada Pemilu 2024 yang mendukung Prabowo Subianto.
Setelah itu, Arifah ditunjuk sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Merah Putih. Dari sana, perhatian publik terhadap dirinya ikut menyeret nama suaminya yang memiliki latar kuat di bidang budaya dan akademik.
Dengan latar yang berbeda, pasangan ini sama-sama memiliki pengaruh di ruang publik. Arifah dikenal lewat organisasi perempuan, keagamaan, dan pemerintahan, sedangkan Ngatawi menempuh jalur kebudayaan, kampus, penelitian, kegiatan sosial, dan gerakan kebangsaan.
Source: www.suara.com