Di era 2020-an, sebuah game tidak selalu jadi kontroversial karena kualitasnya yang buruk. Ada yang memicu perdebatan karena rilisnya berantakan, ada yang dipersoalkan karena arah desainnya, dan ada pula yang terseret isu etika hingga perkara hukum.
Pola itu terlihat jelas pada sejumlah judul besar yang semula dipandang aman. Dari remaster Grand Theft Auto yang penuh bug sampai gugatan Nintendo terhadap Palworld, reputasi game bisa berubah sangat cepat begitu pemain, publik, dan pihak berwenang mulai memberi sorotan.
Saat ekspektasi tinggi bertemu hasil yang mengecewakan
Cyberpunk 2077 menjadi salah satu contoh paling mencolok dari jarak antara hype dan kenyataan. Sebelum rilis, game ini dianggap sebagai salah satu judul yang paling ditunggu karena reputasi CD Projekt Red lewat The Witcher 3.
Namun saat meluncur, versi konsol last-gen seperti PS4 dan Xbox One dihantam bug serta performa buruk. Dampaknya besar karena Sony sempat menarik game ini dari PlayStation Store selama enam bulan, dan CDPR harus membayar kompensasi akibat gugatan hukum dari pemain.
Grand Theft Auto: The Trilogy – Definitive Edition juga memantik reaksi keras setelah rilis. Remaster untuk GTA III, Vice City, dan San Andreas ini dipenuhi bug, termasuk misi yang tidak bisa diselesaikan.
Masalahnya tidak berhenti pada sisi teknis. Banyak pemain menilai peningkatan visual dan sistem yang dibawa justru merusak rasa dari versi original, sementara Grove Street Games dituding bekerja terlalu terburu-buru demi hasil cepat.
Kontroversi yang lahir dari arah desain
Tidak semua perdebatan datang dari performa buruk. Dragon Age: The Veilguard justru memunculkan kritik karena dianggap terlalu jauh meninggalkan akar gameplay Dragon Age.
Sebagian pemain menilai game ini lebih menonjolkan aksi dan mengurangi unsur strategi. Desain misi yang dianggap generik dan repetitif ikut memperkuat kekecewaan, meski sambutan kritikus tetap cukup positif.
Pandangan serupa dalam bentuk berbeda juga muncul pada Atomic Heart. Game ini disorot bukan hanya karena tampilannya, tetapi juga karena sikap studionya yang dinilai menghindari pembahasan soal invasi Rusia ke Ukraina.
Mundfish dikritik karena diam soal konflik tersebut dan dianggap menghindari kaitan dengan Rusia dalam komunikasi resminya. Kementerian Transformasi Digital Ukraina bahkan menilai game ini memromantisasi ideologi komunis dan Uni Soviet.
Isu etika dan politik yang ikut menyeret nama besar
Kontroversi bisa muncul bahkan sebelum pembicaraan soal gameplay selesai. Palworld langsung memicu debat saat rilis early access pada Januari 2024 karena dijuluki “Pokemon dengan senjata”.
Julukan itu membuka perdebatan soal batas antara parodi, inspirasi, dan plagiarisme. Desain beberapa Pal dianggap terlalu mirip dengan Pokemon, lalu muncul tuduhan bahwa Pocketpair mencuri desain meski dibantah.
Perkara itu tidak berhenti di level perdebatan publik. Nintendo dan The Pokémon Company kemudian menggugat Pocketpair atas dugaan pelanggaran paten pada September 2024, sementara mekanisme yang memungkinkan Pal dieksploitasi sebagai tenaga kerja juga ikut disorot.
Six Days in Fallujah menunjukkan sisi lain dari kontroversi, yakni ketika tragedi nyata dijadikan latar permainan. Game shooter militer ini mengangkat Perang Irak dari sudut pandang Amerika Serikat dan menuai kritik sejak pertama kali diumumkan pada 2009.
Banyak pihak menilai pendekatan tersebut tidak sensitif karena mengubah peristiwa nyata menjadi hiburan. Setelah Atomic Games bangkrut pada 2011, proyek ini sempat mati sebelum dihidupkan kembali oleh Highwire Games dan dirilis early access pada Juni 2023.
Versi terbaru mencoba memasukkan sudut pandang Irak, tetapi penolakan tetap muncul. CAIR bahkan meminta platform besar untuk tidak menjual game tersebut, menunjukkan bahwa perdebatan seputar game ini belum selesai.
Enam judul itu memperlihatkan bahwa kontroversi di industri game tidak punya satu wajah. Masalah teknis, keputusan desain, sikap politik, hingga sengketa hukum sama-sama bisa mengubah game yang ditunggu menjadi pusat perdebatan besar.
Source: www.idntimes.com




