Di Balik Gamelan Dan Topeng, Empat Teater Jawa Timur Ini Menjaga Ingatan Budaya

Seni teater tradisional Jawa Timur masih bertahan karena tidak berhenti menjadi bagian dari kehidupan warganya. Di balik hiburan malam, pertunjukan ini juga memuat pesan moral, kritik sosial, dan jejak ritual budaya yang terus dijaga lewat bahasa, gerak, musik, serta cerita.

Kebertahanan itu terlihat dari beberapa bentuk kesenian yang masih dikenal hingga kini, seperti Ludruk, Sandur Bojonegoro, Topeng Jati Duwur Jombang, dan Topeng Malangan. Masing-masing membawa ciri lokal yang berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan budaya lisan dan tradisi setempat.

Dari desa untuk panggung rakyat

Akar seni teater di Jawa Timur banyak berhubungan dengan kehidupan masyarakat desa. Dalam praktiknya, pertunjukan ini hadir sebagai hiburan, sarana menyampaikan pesan moral, media kritik sosial, dan bagian dari ritual adat.

Ciri umumnya tampak dari penggunaan bahasa daerah, musik tradisional, improvisasi pemain, dan interaksi langsung dengan penonton. Karena tumbuh dari lingkungan yang berbeda, setiap wilayah lalu membentuk gaya pertunjukan yang khas sesuai karakter budayanya.

Sandur Bojonegoro dan jejak masyarakat agraris

Sandur Bojonegoro menjadi contoh kuat bagaimana tradisi bisa lahir dari rutinitas sehari-hari warga. Kesenian ini awalnya berkembang dari ritual masyarakat agraris di Bojonegoro, lalu menjadi hiburan setelah warga selesai bekerja di sawah.

Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sandur memadukan drama, tari, karawitan, dan akrobatik. Hingga sekarang, belum ada catatan pasti tentang kapan kesenian ini muncul atau siapa penciptanya.

Peneliti seni pertunjukan Arif Hidajad menyebut Sandur sebagai kesenian yang usianya sangat tua. Tradisi ini diyakini hidup turun-temurun di wilayah Jawa Timur bagian barat, sementara asal-usul namanya memiliki banyak tafsir.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menjelaskan bahwa istilah Sandur dapat berasal dari kata “san” yang dimaknai sebagai panen atau isen, serta “dhur” yang berarti habis atau selesai. Ada pula pendapat lain yang mengaitkannya dengan bahasa Belanda, yakni “zoon” dan “door”.

Dalam tulisan J. Catur Wibono dan tim dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui Jurnal Resital tahun 2009, Sandur juga disebut berasal dari kata “ngedur”, yakni cerita yang terus berlanjut hingga semalam suntuk. Sebagian pelaku seni memaknainya sebagai filosofi hidup, termasuk Djagad Pramudjito dari kelompok Sandur Kembang Desa yang menyebutnya “sapane donya lan urip”.

Ludruk dan suara wong cilik

Di antara seni teater Jawa Timur, Ludruk menjadi salah satu yang paling dekat dengan kehidupan rakyat. Pertunjukan ini memadukan dialog, lawakan, musik gamelan, kidungan, dan cerita yang biasanya dibuka dengan Tari Remo.

Ludruk kerap memakai dialog spontan dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timuran. Isi ceritanya banyak menyoroti kehidupan wong cilik, persoalan ekonomi, kondisi sosial, dan kritik terhadap keadaan masyarakat.

Akar perkembangan Ludruk sering dikaitkan dengan Jombang. Dalam jurnal berjudul Bentuk dan Makna Pada Tata Rias Busana Serta Aksesoris Tari Remo Jombangan karya Ulfa Apriliani, kesenian ini disebut berawal dari Lerok yang digagas Pak Santik, seorang petani sekaligus pengamen jalanan dari Desa Diwek, Jombang.

Lerok kemudian berkembang menjadi Besutan atas inisiatif Pak Santik bersama Pak Pono dan Pak Amir. Bentuk itu menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa penjajahan dan menjadi medium rakyat untuk menyampaikan keresahan, semangat perjuangan, serta keinginan untuk bebas menyampaikan pendapat.

Perkembangan Ludruk di Surabaya juga tidak lepas dari Cak Durrasim. Seniman asal Jombang itu aktif menggelar pertunjukan Ludruk di Surabaya dan memprakarsai berdirinya perkumpulan Ludruk di kota tersebut.

Topeng Jati Duwur dan lapisan ritual

Topeng Jati Duwur Jombang menegaskan bahwa seni pertunjukan tidak selalu berdiri sebagai tontonan semata. Kesenian ini masuk sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018 dan berada dalam domain seni pertunjukan.

Melansir laman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pertunjukan ini menampilkan penari bertopeng yang dipimpin dalang dan membawakan kisah klasik dari Sastra Panji. Cerita yang dibawakan antara lain Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji.

Tradisi ini lahir dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang. Asal-usulnya ditelusuri hingga akhir abad ke-19, dibawa oleh tokoh sakti bernama Ki Purwo dari Gresik yang diyakini sebagai pendiri tradisi wayang topeng di desa tersebut.

Topeng Jati Duwur juga memiliki fungsi ritual sebagai sarana pemenuhan nadzar masyarakat. Setiap 1 Sura, topeng-topeng itu diruwat dan diupacarai, sehingga kesenian ini memuat nilai spiritual dan kesakralan yang kuat.

Topeng Malangan sebagai warisan nilai

Dari Malang Raya, Topeng Malangan hadir sebagai pertunjukan yang memadukan tari, teater, musik gamelan, dan penggunaan topeng dengan karakter khas. Kesenian ini diwariskan turun-temurun oleh masyarakat dan menjadi bagian penting dari warisan budaya lokal.

Dalam jurnal Makna Tari Topeng Malangan sebagai Implementasi dari Karakter Luhur Guru karya Avinda Azizatun Nisa dan kawan-kawan, cerita yang dibawakan umumnya berasal dari kisah Panji, legenda klasik Jawa yang populer sejak masa kerajaan. Alur disampaikan dalang, sementara para penari mengenakan topeng dengan bentuk dan ekspresi berbeda.

Setiap warna dan bentuk topeng memiliki makna tersendiri. Unsur itu merepresentasikan keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, hingga keteguhan hati, sedangkan tokoh Panji kerap digambarkan sebagai sosok pemimpin yang luhur dan bertanggung jawab.

Hubungan Topeng Malangan dengan masyarakat setempat juga sangat erat. Pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana mewariskan kearifan budaya dan pelajaran moral antargenerasi.

Source: www.detik.com

Baca Juga

Back to top button