Di tepi kompleks makam Khan Jahan Ali, sebuah kolam bernama Thakur Dighi justru menjadi salah satu daya tarik paling dikenal di Bagerhat. Tempat ini lekat dengan kisah dua buaya air tawar raksasa, Kalapahar dan Dhautopahar, yang menurut legenda setempat pernah dipelihara oleh sang pendiri kawasan.
Kisah itu membuat Mosque City of Bagerhat tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang yang memadukan jejak kota tua dengan cerita rakyat yang masih hidup. Di tempat yang sama, pengunjung bisa melihat peninggalan arsitektur Islam, sisa tata kota abad pertengahan, dan lokasi ziarah yang terus didatangi hingga sekarang.
Kota tua yang dulu bernama Khalifatabad
Sebelum disebut Mosque City of Bagerhat, kawasan ini lebih dulu dikenal sebagai Khalifatabad. Kota itu dibangun pada abad ke-15 di wilayah yang kini masuk Bangladesh, lalu berkembang sebagai pusat permukiman, pemerintahan, dan kegiatan keagamaan.
Jejak perencanaannya masih bisa dibaca lewat sisa jalan, jembatan, waduk, dan bangunan umum yang pernah menunjang kehidupan warga. Karena itulah, Bagerhat sering dipandang bukan sekadar kawasan bangunan tua, melainkan kota yang sejak awal dirancang untuk berjalan secara teratur.
Jejak masjid dan arsitektur bata
Julukan kota 360 masjid muncul dari banyaknya rumah ibadah dan bangunan keagamaan yang pernah berdiri di kawasan ini. Jumlah itu menegaskan kuatnya pengaruh Islam di Bagerhat pada masa kejayaannya.
Sebagian besar bangunan tersebut dibuat dari batu bata bakar, dengan gaya arsitektur yang memperlihatkan ciri Islam awal di wilayah Bengal. Salah satu bangunan yang paling dikenal adalah Masjid Shat Gombuj atau Sixty Dome Mosque, yang hingga kini menjadi penanda penting dari kawasan bersejarah itu.
Peran Khan Jahan Ali dalam pembentukan kawasan
Nama Khan Jahan Ali tidak bisa dilepaskan dari lahirnya Bagerhat. Ia dikenal sebagai sufi yang dihormati di wilayah Bengal pada abad ke-15, sekaligus ulama dan pemimpin militer yang memiliki visi besar.
Khan Jahan Ali memimpin para pengikutnya membuka kawasan hutan rawa untuk membangun kota mandiri. Perannya dalam penyebaran nilai keagamaan dan pembentukan peradaban membuat sosoknya terus dikenang, terutama karena kompleks makamnya masih menjadi bagian penting dari kawasan tersebut.
Pengakuan dunia atas nilai sejarahnya
Mosque City of Bagerhat ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1985. Pengakuan itu diberikan karena kawasan ini dianggap sebagai salah satu contoh penting kota Muslim abad pertengahan yang masih menyimpan banyak peninggalan sejarah.
UNESCO menilai Bagerhat memiliki nilai sejarah tinggi, arsitektur khas, dan tata kota yang terencana dengan baik. Status itu juga menegaskan posisi Bagerhat bukan hanya penting bagi Bangladesh, tetapi juga bagi sejarah peradaban Islam di Asia Selatan.
Antara ziarah, pelestarian, dan legenda buaya
Hingga kini, kompleks makam Khan Jahan Ali masih ramai didatangi peziarah yang ingin mengenang sosok di balik berdirinya kawasan itu. Di sisi lain, Thakur Dighi yang berada di dekatnya juga tetap menjadi bagian dari cerita yang membuat Bagerhat berbeda dari situs bersejarah lain.
Kolam itu kini dipagari rapat demi keamanan, dan pengunjung dilarang memberi makan buaya secara langsung. Meski buaya asli dari masa legenda sudah mati, kolam tersebut tetap diisi buaya penerus hingga sekarang, sehingga suasana sejarah dan kehati-hatian berjalan beriringan di satu lokasi yang sama.
Bagerhat pun memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan bisa menyimpan banyak lapisan makna sekaligus. Dari Khalifatabad, masjid-masjid bata, makam Khan Jahan Ali, hingga Thakur Dighi dengan legenda Kalapahar dan Dhautopahar, tempat ini masih menjaga pertemuan antara sejarah kota kuno dan cerita rakyat yang terus hidup.
Source: www.idntimes.com