Kondisi Honda di Indonesia memasuki April 2026 semakin menantang. Di tengah pasar yang makin ramai oleh merek mobil asal China, distribusi Honda justru terus melemah dan ikut memunculkan sorotan terhadap jaringan dealernya.
Tekanan itu tidak hanya terlihat dari angka penjualan, tetapi juga dari perubahan di lapangan. Sejumlah dealer Honda disebut berguguran, sementara di sisi lain jaringan baru masih terus dibuka, meski banyak di antaranya berada di luar Pulau Jawa.
Pelemahan Honda sebenarnya sudah tampak sejak 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan wholesales Honda pada 2024 masih berada di 94.742 unit, sedangkan retail mencapai 103.023 unit.
Situasi berubah tajam pada 2025. Wholesales Honda turun menjadi 56.500 unit, sementara penjualan retail menyusut ke 71.233 unit.
Tekanan berlanjut pada awal 2026
Memasuki Januari-April 2026, tren penurunan belum berhenti. Wholesales Honda hanya tercatat 15.893 unit, turun 37,3 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencapai 25.336 unit.
Di sisi eceran, pelemahannya bahkan lebih dalam. Penjualan retail Honda pada Januari-April 2026 berada di angka 16.516 unit, turun 43,5 persen dari 29.215 unit pada Januari-April 2025.
Angka tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi Honda bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Persaingan pasar bergerak cepat, sementara merek-merek baru dari China hadir dengan strategi yang lebih agresif.
Dealer ikut masuk sorotan
Di tengah penurunan itu, jaringan penjualan Honda ikut menjadi perhatian. Kabar mengenai sejumlah dealer yang beralih menjadi gerai merek mobil asal China ikut mencuat, meski kondisi di lapangan tidak sesederhana penutupan serentak.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan Honda masih terus membuka dealer baru. Namun, pembukaan jaringan tersebut banyak dilakukan di luar Pulau Jawa.
Kukuh juga menegaskan bahwa penutupan dealer merupakan keputusan bisnis yang berdiri sendiri. Dengan begitu, perubahan jaringan distribusi mengikuti pertimbangan masing-masing pelaku usaha di lapangan.
Peran dealer tetap penting karena menjadi penghubung utama antara produsen dan konsumen. Saat pasar bergerak semakin kompetitif, keberadaan jaringan penjualan ikut menentukan seberapa mudah konsumen menjangkau produk Honda di berbagai daerah.
Pasar menuntut penyesuaian cepat
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti tantangan yang dihadapi merek Jepang di Indonesia. Ia menekankan bahwa semua produsen perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan keinginan pasar.
Menurut Agus, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar pemain lama tetap relevan. Tanpa perubahan strategi yang cepat, pangsa pasar berisiko terus tergerus oleh kompetitor global yang lebih lincah membaca tren konsumen.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri otomotif nasional tengah memasuki fase persaingan yang lebih keras. Honda kini harus menghadapi penurunan penjualan, pergeseran jaringan distribusi, dan perubahan preferensi pembeli secara bersamaan.