“Papa Tenang Aja” menjadi salah satu lagu paling personal dari Dikta karena seluruh emosinya diarahkan kepada mendiang ayahnya, Dicky Sulaksono. Lagu ini hadir di album mini Unapologetic yang dirilis pada Jumat, 15 Mei 2026, dan langsung menonjol berkat nuansa rindu yang sangat dekat dengan pengalaman banyak orang yang kehilangan.
Di lagu ini, Dikta memilih bentuk cerita yang sederhana, seperti percakapan yang belum selesai dengan orang yang sudah pergi. Ia menulis dan memproduksi lagu tersebut sendiri, sehingga isi pesan terdengar utuh, jujur, dan tidak terasa berjarak.
Percakapan yang terasa seperti surat
Sejak bagian awal, lagu ini sudah membawa pendengar ke ruang batin yang rapuh. Kalimat “Papa lagi apa disana / Sudah lama gak cerita / Aku mulai hilang arah / Aku hampir menyerah” menunjukkan kegelisahan yang sangat terbuka, tetapi tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dikta tidak membangun emosi lewat kalimat yang rumit. Ia justru memakai ungkapan yang sederhana agar rasa kehilangan dan kebingungan itu terasa lebih dekat, seolah menjadi surat yang ditujukan langsung kepada ayahnya.
Tegar di tengah duka
Di balik rindu yang kuat, ada tekad untuk tetap berdiri. Repetisi “Jangan khawatir papa / Aku baik-baik saja” menjadi penanda penting karena memperlihatkan usaha untuk tetap tegar meski lelah dan luka masih ada.
Bagian itu membuat lagu ini tidak berhenti pada kesedihan semata. Ada upaya untuk meyakinkan sosok yang telah tiada bahwa hidup masih terus dijalani, walau dengan beban emosional yang tidak ringan.
Doa yang belum putus
Nada haru juga terasa saat Dikta bertanya, “Pa.. Apa rasanya surga / Jelaskah kau lihat aku dari sana / Titipkan salam juga untuk mama.” Pertanyaan itu memperlihatkan hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua, sekaligus doa yang terus disampaikan meski percakapannya tidak lagi terjadi secara nyata.
Di titik ini, lagu bergerak menjadi ruang untuk mengenang, bertanya, dan menitip pesan. Kehadiran mama dalam lirik juga memperluas rasa kedekatan keluarga yang menjadi inti emosinya.
Luka, syukur, dan cara bertahan
Lagu ini tidak membiarkan duka berdiri sendiri. Dikta juga memasukkan perjalanan yang penuh sakit lewat kalimat, “Semua telah aku lalui / Meski dengan sakit dan luka / Tertawa satu-satunya senjata / Tapi aku bahagia.”
Rangkaian itu menunjukkan bahwa kehilangan tidak menghapus kemampuan untuk bertahan. Di saat yang sama, ada rasa syukur dan ingatan pada masa-masa baik yang ikut membentuk cara lagu ini memandang hidup.
Menjadi salah satu nomor paling intim di Unapologetic
Di antara lagu-lagu dalam Unapologetic, “Papa Tenang Aja” tampil sebagai karya yang paling intim. Lagu ini terasa langsung, personal, dan membawa pendengar masuk ke ruang yang sangat pribadi milik Dikta.
Karena ditulis dan diproduksi sendiri, karya ini juga memperlihatkan kendali penuh atas pesan yang ingin disampaikan. Hasilnya adalah lagu dengan lirik yang sederhana, emosi yang tulus, dan penghormatan yang kuat untuk ayah yang telah berpulang.
Kekuatan “Papa Tenang Aja” ada pada kejujurannya yang tidak berlebihan. Lagu ini menyentuh karena mengubah kehilangan menjadi percakapan yang hangat, penuh rindu, dan tetap tegar.
Source: www.medcom.id




