Diskon BYD di China Makin Dalam, Pemerintah Cemas Perang Harga Tak Berujung

Persaingan mobil listrik di China kembali memanas setelah BYD memangkas harga jual hingga 10 persen di pasar domestik. Langkah ini menunjukkan bahwa perang harga belum benar-benar reda, meski pemerintah setempat sudah memberi peringatan kepada para produsen agar tidak terus menjual mobil terlalu murah.

Keputusan BYD juga memperlihatkan betapa ketatnya tekanan di industri otomotif China saat ini. Di satu sisi, BYD punya jaringan penjualan yang luas dan lini produk yang beragam, tetapi di sisi lain jumlah rival yang agresif membuat posisinya tidak lagi aman.

Peringatan pemerintah belum menghentikan diskon

Potongan harga tersebut berlaku untuk mobil BYD yang dijual di China, termasuk model listriknya. Langkah ini tergolong berani karena otoritas China sebelumnya sudah mengingatkan produsen agar tidak memicu perang harga yang dapat berdampak serius pada industri.

Pemerintah khawatir harga yang terus ditekan akan membuat merek lain semakin sulit bersaing. Jika situasi itu berlanjut, sebagian produsen bisa tersingkir dari pasar dan berisiko memicu PHK dalam jumlah besar.

Meski begitu, tidak ada larangan langsung yang benar-benar menghentikan produsen untuk menjual mobil lebih murah. Celah inilah yang masih dimanfaatkan BYD untuk menjaga posisinya di pasar domestik yang sangat kompetitif.

Bukan hanya BYD yang menekan harga

BYD bukan satu-satunya merek yang ikut bermain agresif di pasar China. Chery dan Geely juga disebut mematok diskon 15 persen untuk mobil yang mereka jual di sana.

Namun, diskon yang lebih besar tidak otomatis membuat penjualan pulih. Penurunan penjualan mobil di China disebut berkaitan dengan kapasitas produksi yang terlalu besar dibandingkan daya serap pasar.

Tahun lalu, penjualan mobil di China mencapai 23 juta unit. Sementara itu, kapasitas produksinya mencapai 55,5 juta unit per tahun, sehingga pasar domestik tidak cukup besar untuk menyerap seluruh produksi.

Ekspor jadi tumpuan pabrikan

Kondisi tersebut membuat produsen makin bergantung pada ekspor untuk menjaga volume penjualan. Perusahaan yang memiliki jaringan luar negeri tentu lebih terbantu karena bisa mengalihkan kelebihan produksi ke pasar lain.

Dampaknya terlihat pada ekspor mobil yang disebut naik dua kali lipat dari tahun 2025. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik ikut mendorong pabrikan mencari ruang baru di luar China.

Meski begitu, ekspor juga tidak selalu mudah. Produsen tetap harus menghadapi regulasi ketat di negara tujuan, dan tidak semua model bisa langsung memenuhi aturan yang berlaku.

Risiko terbesar menimpa produsen yang lemah

Perang harga yang berkepanjangan paling berbahaya bagi produsen yang tidak punya modal kuat. Neta disebut mengalami kesulitan keuangan yang ikut berdampak pada penjualan di dalam maupun luar negeri.

Dalam situasi seperti itu, restrukturisasi juga bisa menghambat peluncuran mobil baru. Perusahaan akan lebih sibuk menjaga operasional ketimbang memperluas lini produknya.

Di tengah tekanan tersebut, BYD, Chery, dan Geely juga sama-sama hadir di Indonesia dengan membawa sejumlah model unggulan. Ketiganya menjual mobil listrik, sementara Chery terus menambah sub-brand untuk memperluas persaingan di pasar yang makin ramai.

Walau perang harga di Indonesia belum separah di China, tren kehadiran merek baru tetap perlu dicermati. Banyak di antaranya membawa mobil SUV dengan fitur lengkap dan harga terjangkau, sehingga kompetisi di segmen ramah lingkungan diperkirakan akan semakin padat.

Source: ridertua.com

Baca Juga

Back to top button