D’Masiv Lepas Dari Label Lama, On Our Own Jadi Penanda Arah Baru yang Gelisah

Di tengah gelombang perubahan yang mengiringi langkah mereka sebagai band independen, D’Masiv datang lewat “On Our Own” dengan nada yang lebih gelap dan resah. Lagu berbahasa Inggris ini bukan hanya rilisan terbaru, tetapi juga menandai babak baru setelah mereka tidak lagi berada di bawah naungan Musica Studio.

Perubahan itu membuat “On Our Own” terasa lebih dari sekadar single biasa. Karya ini sekaligus menjadi pernyataan arah baru D’Masiv saat mereka membangun label sendiri dan membuka ruang yang lebih luas untuk menjangkau pendengar baru.

Pilihan menggunakan bahasa Inggris juga memperlihatkan strategi yang lebih terbuka. D’Masiv tampak ingin melangkah ke audiens lintas negara, termasuk lewat rencana kolaborasi dengan musisi Amerika untuk memperkuat peluang mereka di kancah musik internasional.

Langkah tersebut tetap dijalankan tanpa meninggalkan identitas dasar mereka sebagai band pop Indonesia. Justru di titik ini, “On Our Own” menjadi penanda bahwa D’Masiv ingin memperluas jangkauan tanpa melepas karakter yang sudah melekat pada mereka.

Dari sisi isi, lagu ini bergerak pada tema kegelisahan saat melihat dunia yang terasa tidak adil. Liriknya menyoroti kenyataan pahit ketika orang baik bisa jatuh, sementara orang yang berbuat buruk justru tampak berada di posisi lebih tinggi.

Suasana muram itu langsung terasa sejak pembuka lagu yang diawali pertanyaan “Why?”. Setelah itu, lirik berkembang menjadi rangkaian gambaran tentang dunia yang keras, termasuk bayi yang lahir sambil menangis, perbuatan jahat yang terjadi di bawah matahari, dan kondisi ketika seseorang seolah kehilangan pegangan.

D’Masiv juga memakai diksi yang memperkuat kesan dunia yang terbalik. Ungkapan tentang dunia yang “turn upside down” dan anak-anak yang hidup “six feet underground” menambah lapisan kritik sosial yang tersirat di dalam lagu.

Meski gelap, lagu ini tidak berhenti pada rasa putus asa. Di tengah keresahan itu, D’Masiv tetap menanamkan pesan bahwa manusia tidak bisa menghadapi hidup sendirian.

Gagasan itu ditegaskan lewat baris “I won’t make it on my own” dan “We all know we won’t make it on our own”. Pengulangan kalimat tersebut memperjelas bahwa ada batas pada kemampuan individu, sehingga keyakinan, nilai kebaikan, dan dukungan dari orang lain menjadi pegangan untuk bertahan.

Di bagian lain, lagu ini juga mengingatkan agar nilai-nilai yang sudah diajarkan tidak dilupakan. D’Masiv menggambarkan nilai itu sebagai sesuatu yang dapat “save our soul”, sehingga nada harapan tetap hadir di tengah dominasi keresahan.

Respons awal terhadap rilisan ini ikut memperlihatkan perhatian publik. “On Our Own” yang dirilis pada 27 Mei sudah mencatat 37 ribu stream di Spotify, sementara video musiknya yang diunggah tiga hari kemudian hampir menembus 50 ribu penayangan di YouTube.

Capaian itu memberi sinyal bahwa langkah baru D’Masiv sebagai band independen mendapat sambutan. Di saat yang sama, “On Our Own” menempatkan mereka pada titik pertemuan antara refleksi sosial, pesan moral, dan upaya memperluas langkah ke panggung yang lebih besar.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button