Dugaan Kekerasan Seksual di Tahanan Israel, Aktivis Flotilla Gaza Bongkar Perlakuan Brutal

Laporan yang dibawa pulang para aktivis Global Sumud Flotilla memicu gelombang kecaman baru terhadap penanganan tahanan Israel. Mereka yang baru dideportasi mengaku mengalami kekerasan fisik, pelecehan seksual, hingga perlakuan yang disebut merendahkan martabat selama berada dalam tahanan.

Sebanyak 422 orang dari 41 negara dipulangkan pada Kamis setelah penahanan yang bermula dari pencegatan misi bantuan ke Gaza di perairan internasional. Di antara mereka, muncul kesaksian yang menyebut adanya penganiayaan berat dan membuat kasus ini segera menjadi sorotan pemerintah serta kelompok hak asasi manusia.

Kesaksian yang paling mencolok

Sejumlah aktivis yang kembali ke negara masing-masing mulai menceritakan apa yang mereka alami selama ditahan. Meriem Hadjal, aktivis asal Prancis, mengatakan dirinya menjadi sasaran kekerasan seksual dan perabaan paksa.

Ia menggambarkan perlakuan yang diterimanya dengan menyebut dirinya dipukul, ditampar, disentuh, dilutut di bagian tulang rusuk, dan rambutnya ditarik. Hadjal mengatakan pengalaman itu membuatnya trauma selama berjam-jam setelah dibebaskan.

Kesaksian lain datang dari jurnalis Italia Alessandro Mantovani yang menyebut fasilitas penahanan Israel sebagai “tempat teror”. Ia menilai situasi yang dialami para tahanan menunjukkan adanya pola intimidasi yang serius selama mereka berada dalam pengawasan otoritas Israel.

Aktivis Inggris Richard Johan Anderson juga mengaku mengalami perlakuan serupa. Ia menyebut para aktivis “disiksa dan didehumanisasi secara sistematis” selama masa penahanan.

“ Kami telah dipukuli, disiksa, didehumanisasi secara sistematis, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina setiap hari,” kata Anderson.

Tuduhan yang mencuat dari pihak penyelenggara

Penyelenggara flotilla menyebut sedikitnya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan. Mereka juga mengatakan puluhan aktivis mengalami patah tulang setelah dipukuli selama masa penahanan.

Laporan yang dibawa para aktivis itu memperkuat perhatian publik terhadap cara penanganan peserta misi bantuan tersebut. Kasus ini juga menambah tekanan terhadap Israel karena penahanan itu terjadi setelah kapal-kapal flotilla dicegat di laut.

Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia Adalah menyebut ada cedera luas dan parah di antara para aktivis. Kelompok itu mengatakan sedikitnya tiga orang harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif akibat kekerasan ekstrem yang diduga dilakukan otoritas keamanan Israel.

Reaksi dari luar Israel

Pemerintah Kanada menjadi salah satu pihak yang bereaksi keras setelah menerima laporan dugaan pelecehan terhadap warganya. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menegaskan bahwa perlakuan seperti itu tidak bisa dibenarkan dan harus dipertanggungjawabkan.

“Kanada mengutuk keras perlakuan buruk terhadap warga Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas pelecehan mengerikan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Anand, dikutip BBC.

Gelombang kritik internasional muncul saat para aktivis mulai kembali ke negara mereka masing-masing. Di banyak tempat, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada misi bantuan yang dicegat, tetapi juga pada kondisi yang mereka klaim dialami selama ditahan.

Bantahan dari Israel

Israel menolak seluruh tuduhan itu. Layanan penjara Israel menyebut klaim para aktivis sebagai tuduhan palsu dan tanpa dasar faktual, serta menegaskan semua tahanan diperlakukan sesuai hukum.

Militer Israel atau IDF juga menyatakan prosedur mereka mewajibkan perlakuan hormat terhadap peserta flotilla. Bantahan ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan internasional atas penanganan para aktivis yang ikut misi bantuan tersebut.

Ketegangan ikut meningkat setelah beredar video Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, yang tampak mengejek para aktivis saat mereka berlutut dengan tangan terikat. Rekaman itu memicu kritik, termasuk dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyebut tindakan tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version