Pameran Teks, Gambar, Kitab menempatkan drawing sebagai bahasa yang tetap hidup di tengah dominasi visual digital yang serba cepat. Di Komunitas Salihara Arts Center, hampir 100 karya grafis Goenawan Mohamad memperlihatkan bahwa gambar tangan masih mampu memegang daya pikat yang kuat.
Pameran ini berlangsung pada 24 Mei hingga 28 Juni 2026 dan menampilkan teknik intaglio, cetak saring, serta litografi. Ragam teknik itu memperlihatkan keluasan praktik visual Goenawan Mohamad dalam wilayah gambar dan cetak.
Di ruang pamer itu, kesan yang menonjol bukan hanya pada jumlah karya, tetapi juga pada jejak tubuh seniman yang terasa dekat dengan medium. Kurator Asikin Hasan menilai karya-karya tersebut masih menyimpan kualitas aura yang lahir dari hubungan langsung antara tangan, garis, dan bidang kosong.
Asikin menyoroti garis spontan sebagai elemen yang kuat dalam karya-karya Goenawan Mohamad. Ia juga mengatakan, “Dia nggak pernah berhenti menggambar,” untuk menegaskan konsistensi praktik menggambar yang terus hadir dalam perjalanan kreatifnya.
Menurut Asikin, kualitas seperti itu kini makin jarang ditemui ketika karya seni visual kian akrab dengan proses yang teknis dan repetitif. Ia bahkan mengaitkannya dengan daya auratik yang dahulu lekat pada nama-nama seperti Van Gogh dan Picasso.
Figur sederhana, ruang tafsir yang luas
Sejumlah karya seperti Hantu Cabe Rawit (2023) dan Burung Singgah (2022) memperlihatkan kecenderungan visual yang ringkas namun tidak kehilangan lapisan makna. Figur sederhana dan komposisi minimal justru memberi ruang bagi suasana personal, hening, dan intim.
Pendekatan itu membuat karya-karya Goenawan Mohamad tidak berhenti pada kesan ekspresi individual. Isu politik dan lingkungan tetap hadir, tetapi disampaikan lewat simbol dan fragmen visual, bukan narasi yang menjelaskan semuanya secara langsung.
Tisna Sanjaya melihat cara kerja tersebut sebagai sesuatu yang melampaui ranah personal. Menurutnya, ekspresi yang sangat pribadi itu berkembang menjadi peristiwa kebudayaan dan juga ruang kritik terhadap berbagai hal.
“Dari karya-karya ekspresi personalnya yang sangat personal, metafor, simponik, saya lihat karyanya dilebarkan menjadi peristiwa kebudayaan, menjadi peristiwa kritis terhadap berbagai hal,” ujar Tisna. Pandangan itu sejalan dengan susunan karya dalam pameran yang menekankan gestur, garis, dan jeda visual sebagai pusat perhatian.
Di tengah arus teknologi yang makin mendominasi seni visual, Teks, Gambar, Kitab memberi penegasan yang sederhana namun tegas. Drawing masih mampu menghadirkan kedekatan emosional sekaligus membuka pembacaan yang lebih luas atas persoalan sosial dan kebudayaan.
Source: lifestyle.bisnis.com




