Di banyak kasus diabetes, neuropati perifer baru disadari saat keluhan sudah terasa mengganggu. Kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, atau seperti tertusuk jarum sering muncul pelan-pelan sehingga pasien menganggapnya sebagai hal ringan.
Padahal, kondisi ini berkaitan dengan kerusakan saraf pada tangan dan kaki, dan keterlambatan mengenalinya bisa membuat penanganan makin sulit. Di kawasan Asia Pasifik, neuropati perifer diperkirakan dialami satu dari dua pasien diabetes, sementara hingga 80 persen kasusnya belum terdiagnosis.
Gejala yang kerap dianggap biasa
Masalah utama dari neuropati perifer adalah gejalanya tidak selalu langsung memicu seseorang mencari bantuan. Keluhan awal sering disamakan dengan kelelahan, pegal, atau gangguan ringan lain, sehingga peluang deteksi dini menjadi terlewat.
Yolanda R. Robles, Ketua Penulis pedoman sekaligus Profesor di Fakultas Farmasi University of the Philippines, menyebut neuropati perifer sebagai masalah kesehatan yang umum tetapi sering tidak tertangani optimal. Ia juga menyoroti tingginya prevalensi pada pasien diabetes di Asia Pasifik, termasuk Filipina 58 persen, Indonesia 58 persen, Malaysia 54 persen, Thailand 34 persen, Singapura 28 persen, dan Australia 21 persen.
Apotek komunitas didorong jadi titik awal skrining
Untuk menjawab tantangan itu, pakar farmasi Asia Pasifik bersama P&G Health meluncurkan pedoman baru bagi apoteker komunitas. Pedoman ini disusun agar mudah digunakan dalam pelayanan harian dan tidak menambah beban kerja apoteker secara berlebihan.
Fokus utamanya adalah menjadikan apotek sebagai pintu awal skrining. Pasien yang datang dengan keluhan seperti kesemutan, mati rasa, sensasi terbakar, atau nyeri seperti tertusuk jarum bisa dikenali lebih cepat, lalu diarahkan ke tindak lanjut yang sesuai sebelum kondisi berkembang lebih jauh.
Peran apoteker makin dekat dengan pasien
Peran apoteker kini tidak lagi terbatas pada penyerahan obat. Lusy Noviani, perwakilan Ikatan Apoteker Indonesia sekaligus penulis kontributor, menegaskan bahwa apoteker di Asia Pasifik telah menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan perawatan proaktif.
Kondisi ini dinilai relevan bagi Indonesia, terutama di wilayah yang akses ke dokternya masih terbatas. Karena berada paling dekat dengan masyarakat, apoteker dapat membantu mempercepat rujukan dan mengurangi keterlambatan penanganan neuropati perifer.
Shraddha Vohra dari P&G Health menilai apotek komunitas bisa menjadi pintu masuk penting bagi pasien yang mengalami gangguan saraf. Ia menekankan bahwa apoteker memiliki posisi untuk mengenali tanda awal, memberi arahan, dan membantu mencegah gejala berkembang lebih jauh.
Alat bantu sederhana untuk mengenali risiko
Pedoman baru itu memperkenalkan mnemonik MEDIC agar apoteker lebih mudah mengidentifikasi pasien berisiko tinggi. MEDIC merujuk pada Medication, Elderly, Diabetes, Infection, dan Chronic.
Dr. Navin Kumar Loganadan menjelaskan bahwa MEDIC bukan alat diagnosis, melainkan alat bantu untuk melihat risiko kerusakan saraf sejak dini. Dengan pendekatan ini, apoteker bisa mengambil langkah berikutnya secara cepat tanpa mengganggu alur layanan di apotek.
Selain melihat faktor risiko, apoteker juga diarahkan memakai kuesioner tervalidasi untuk membantu skrining. Langkah lain mencakup membedakan nyeri saraf dari nyeri otot agar konseling yang diberikan lebih tepat sasaran.
Konseling, vitamin B, dan pemantauan lanjutan
Dalam beberapa kasus, vitamin B neurotropik seperti B1, B6, dan B12 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan, dengan dosis dan pemantauan yang tepat. Dr. Kenny James P. Merin menyoroti bahwa banyak pasien melakukan swamedikasi dengan vitamin B tanpa dosis yang sesuai, sehingga peran apoteker menjadi penting untuk mengarahkan penggunaan yang lebih aman.
Pedoman ini juga menegaskan bahwa penanganan neuropati perifer tidak selesai setelah terapi awal diberikan. Dr. Kitiyot Yotsombut menyebut evaluasi ulang dalam 3–6 bulan tetap diperlukan, disertai kewaspadaan terhadap tanda bahaya dan kolaborasi yang erat dengan dokter.
Dengan alur kerja yang lebih proaktif, apotek komunitas diharapkan menjadi tempat deteksi yang lebih cepat dan merata bagi pasien diabetes. Pendekatan ini memberi peluang lebih besar untuk mencegah komplikasi lanjutan dan menjaga kualitas hidup pasien dalam menjalani diabetes.
Source: www.suara.com