Gelombang Kekerasan Di Tepi Barat Memanas, Remaja 15 Tahun Tewas dan Masjid Dibakar

Ketegangan di Tepi Barat kembali memuncak setelah dua insiden kekerasan dilaporkan hampir bersamaan. Seorang remaja Palestina berusia 15 tahun tewas ditembak, sementara sebuah masjid di desa Jibiya, utara Ramallah, dilaporkan dibakar dalam serangan yang diduga dilakukan pemukim Israel.

Rentetan peristiwa itu menambah daftar panjang kekerasan di wilayah pendudukan yang sudah lama berada dalam kondisi rapuh. Di tengah operasi militer, serangan pemukim, dan meningkatnya ancaman terhadap warga sipil, tempat ibadah pun kembali menjadi sasaran.

Remaja 15 tahun tewas di Al-Lubban al-Sharqiyya

Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban sebagai Fahd Zidan Oweis. Menurut keterangan resmi, remaja itu ditembak mati saat fajar di kota Al-Lubban al-Sharqiyya, di kegubernuran Nablus.

Pihak Palestina juga menyebut jenazah Oweis masih ditahan militer Israel. Namun, militer Israel menyampaikan versi yang berbeda kepada AFP dan menyebut pasukannya sedang menjalankan operasi kontraterorisme di area tersebut.

Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan pasukannya “mengeliminasi seorang teroris bermasker” yang melempar batu ke arah kendaraan Israel di jalan utama. Keterangan itu bertolak belakang dengan laporan otoritas Palestina yang menegaskan korban adalah remaja berusia 15 tahun.

Masjid di Jibiya dibakar

Di desa Jibiya, warga Palestina melaporkan bagian dalam masjid dibakar, sementara dua mobil yang terparkir di halamannya ikut hangus. Serangan itu disebut terjadi tak lama setelah tengah malam dan membuat warga sekitar panik.

Saksi mata juga melihat coretan grafiti berbahasa Ibrani di dinding luar masjid. Ibrahim Zibar, penjaga masjid, mengatakan warga melihat asap keluar dari jendela dan segera berusaha memadamkan api.

“Kelihatannya mereka mencoba membakar seluruh bangunan masjid,” ujarnya. Kementerian Urusan Agama Palestina mengecam kejadian itu sebagai “tindakan teroris pengecut” yang mencerminkan sikap ekstremis dan tidak menghormati agama maupun hukum internasional.

Kekerasan yang terus melebar

Serangan terbaru ini terjadi di tengah lonjakan kekerasan di Tepi Barat sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023. Data yang dikutip menyebut sedikitnya 1.072 warga Palestina tewas oleh pasukan atau pemukim Israel, sementara sedikitnya 46 warga Israel tewas akibat serangan Palestina atau operasi militer.

Di wilayah yang sama, lebih dari 500.000 pemukim tinggal di permukiman ilegal menurut hukum internasional. Kondisi itu membuat sekitar tiga juta warga Palestina hidup berdampingan dengan pemukim Israel dalam situasi keamanan yang semakin rapuh.

Militer Israel menyatakan mengutuk serangan terhadap institusi keagamaan dan berjanji menyelidiki kejadian tersebut. Namun, laporan serupa kerap muncul tanpa kejelasan konsekuensi hukum bagi para pelaku, sementara warga sipil terus menghadapi risiko di tengah eskalasi yang belum mereda.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version