Gencatan Senjata Gaza Kembali Terguncang, Satu Keluarga Tewas Dalam Serangan Di Al-Nuseirat

Gaza kembali menampilkan betapa rentannya nasib warga sipil di tengah gencatan senjata yang masih dipenuhi serangan. Di kamp pengungsi Al-Nuseirat, Gaza tengah, serangan udara sebelum fajar menewaskan satu keluarga Palestina, termasuk seorang bayi berusia satu tahun, dan melukai sekitar 10 orang lainnya.

Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah mengonfirmasi bahwa jenazah pasangan suami istri dan anak mereka telah dibawa ke fasilitas itu setelah serangan. Badan Pertahanan Sipil Gaza juga memastikan jumlah korban tewas, sementara keluarga korban menggambarkan malam itu sebagai momen ketika mereka masih terlelap di tempat tidur.

Maram Abu Malouh, ibu dari pria yang tewas, mengatakan kepada AFP bahwa rudal menghantam tepat di tempat tidur keluarga itu. Menurut pengakuannya, anak, istri, dan putranya sedang tidur di rumah saat serangan terjadi.

Rekaman dari rumah sakit memperlihatkan suasana duka yang pekat. Kerabat korban tampak menangis di dekat tiga jenazah yang dibungkus kain kafan putih, menggambarkan besarnya kehilangan yang dialami warga sipil di wilayah yang sudah lama hidup dalam kepadatan dan kerentanan.

Serangan itu menambah panjang daftar korban sipil di Gaza meski gencatan senjata formal disebut berlaku sejak Oktober lalu. Di lapangan, ketegangan tetap tinggi dan kekerasan masih berulang, membuat warga sipil terus berada di posisi paling terdampak.

Hingga laporan ini diturunkan, militer Israel belum memberi komentar langsung mengenai tewasnya tiga warga sipil tersebut. Namun militer menyatakan telah menyerang tiga fasilitas penyimpanan senjata Hamas di Gaza tengah dalam 24 jam terakhir.

Pada Senin pagi, serangan udara lain juga dilaporkan menghantam Deir el-Balah. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, tetapi kerusakan di lokasi terlihat jelas, dengan lubang besar di fasad bangunan dan puing beton berserakan di sekitarnya.

Data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan Gaza dan PBB menunjukkan sedikitnya 890 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata 10 Oktober. Dalam periode yang sama, militer Israel melaporkan lima tentaranya tewas.

Meski kesepakatan gencatan senjata sudah diumumkan, Israel dan Hamas saling menuduh melanggar perjanjian tersebut. Israel juga menegaskan masih berhak menyerang target yang dianggap sebagai ancaman, sementara kondisi di Gaza tetap sulit diverifikasi secara independen karena pembatasan media dan akses yang terbatas.

Di tengah klaim militer dan situasi yang belum mereda, serangan di Al-Nuseirat kembali menunjukkan bahwa ancaman terhadap keluarga-keluarga di Gaza masih sangat nyata. Warga sipil terus menanggung beban terbesar dari konflik yang belum menemukan ruang aman bagi mereka.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version