Selama ini, tangan kecil T. rex sering dianggap aneh karena tidak sebanding dengan tubuhnya yang raksasa. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa bagian tubuh itu mengecil bukan tanpa alasan, melainkan karena tengkorak dan rahang berkembang menjadi senjata utama dalam berburu.
Temuan ini membuat cara pandang terhadap Tyrannosaurus rex ikut bergeser. Pada theropoda pemakan daging, kekuatan gigitan tampaknya lebih diutamakan daripada lengan panjang dan kuat, sehingga evolusi tubuh mereka bergerak ke arah yang berbeda.
Penelitian yang dipimpin Charlie Scherer, kandidat PhD dari University College London dan University of Cambridge, menyoroti hubungan erat antara penguatan tengkorak dan penyusutan lengan. Ia menilai kekuatan keseluruhan tengkorak menjadi faktor paling besar dalam membentuk ukuran lengan yang makin kecil.
Steve Brusatte dari University of Edinburgh juga menekankan betapa ekstremnya proporsi tubuh T. rex. Ia menggambarkan lengan hewan sebesar bus itu hanya seukuran lengan manusia, sebuah susunan tubuh yang tampak janggal tetapi cocok untuk strategi berburu yang mengandalkan gigitan.
Tim peneliti menguji data dari 85 spesies dinosaurus theropoda untuk mencari pola yang konsisten. Mereka membandingkan panjang lengan, ukuran tengkorak, dan dimensi tubuh, lalu menemukan bahwa kekokohan tengkorak menjadi prediktor paling kuat bagi lengan yang mengecil.
Hasil itu menunjukkan bahwa penyusutan lengan pada predator raksasa tidak hanya berkaitan dengan tubuh yang membesar. Ada tekanan evolusioner lain yang bekerja, dan tengkorak tampak berada di pusat perubahan tersebut.
Tengkorak menggantikan peran lengan
Dalam kelompok theropoda, senjata utama tampaknya bergeser dari tangan ke gigitan. Saat rahang dan tengkorak makin kuat untuk melumpuhkan mangsa, kebutuhan atas lengan besar menjadi berkurang.
Karena itu, lengan pendek pada T. rex tidak lagi terlihat sebagai keanehan semata. Bentuk tersebut justru selaras dengan tubuh predator yang mengandalkan kepala sebagai alat serang utama.
Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa teori allometry saja tidak cukup. Jika penyusutan lengan hanya dipicu oleh tubuh yang makin besar, maka semua dinosaurus berukuran besar semestinya memiliki lengan kecil.
Faktanya tidak selalu demikian. Dinosaurus herbivora besar seperti Deinocheirus tetap memiliki lengan yang sangat besar meski ukuran tubuhnya setara dengan T. rex.
Perbedaan itu cocok dengan cara hidup yang berbeda pula. Deinocheirus tidak perlu bergantung pada gigitan maut untuk menaklukkan mangsa, sehingga tidak mengalami tekanan yang sama untuk memperkuat tengkorak dan memangkas lengan.
Pola serupa muncul di beberapa garis keturunan
Studi yang dimuat dalam Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences ini menemukan bahwa pola tersebut muncul berulang pada lima garis keturunan theropoda. Kelompok itu mencakup Tyrannosauridae, Abelisauridae, Carcharodontosauridae, Ceratosauridae, dan Megalosaurinae.
Kemunculan pola yang sama di beberapa kelompok memperkuat kesimpulan bahwa fenomena ini bukan kasus tunggal pada T. rex. Sejumlah predator lain tampaknya juga menempuh jalur evolusi serupa ketika tengkorak mereka makin dominan sebagai alat berburu.
Dengan begitu, tubuh theropoda berevolusi mengikuti kebutuhan berburu yang berubah. Saat kekuatan gigitan menjadi pusat serangan, fungsi lengan ikut menyusut karena tidak lagi memegang peran utama.
Meski begitu, masih ada bagian yang belum terjawab sepenuhnya. Salah satunya adalah bagaimana perubahan struktur otot pada lengan yang makin kecil ikut memengaruhi proses evolusi itu.
Kajian lanjutan masih dibutuhkan untuk melihat apakah penyusutan lengan juga berdampak pada fungsi lain dalam tubuh theropoda. Untuk saat ini, arah besarnya sudah jelas: pada T. rex, tengkorak tampak jauh lebih penting daripada ukuran tangan.
Source: mediaindonesia.com




