Harga emas batangan Antam pada perdagangan Jumat (24/4/2026) tidak menunjukkan pergerakan dan tetap berada di level Rp 2.805.000 per gram. Pada saat yang sama, harga buyback juga bertahan di Rp 2.610.000 per gram, sehingga pasar emas domestik terlihat lebih tenang dibandingkan pergerakan emas dunia.
Stabilnya harga tersebut terjadi ketika pasar spot global justru melemah. Emas dunia ditutup di US$ 4.690,3 per troy ons, turun 1,04 persen, sekaligus menjadi level terendah sejak awal April.
Harga di dalam negeri bergerak datar
Tidak hanya harga 1 gram, seluruh pecahan emas Antam juga tercatat tidak berubah. Kondisi ini terlihat dari ukuran kecil hingga besar, mulai 0,5 gram sampai 1.000 gram, yang sama-sama mempertahankan banderol sebelumnya.
Untuk pecahan 0,5 gram, harga emas Antam berada di Rp 1.452.500. Ukuran 10 gram dipatok Rp 27.545.000, sedangkan emas 100 gram dijual Rp 274.712.000.
Pada pecahan yang lebih besar, emas 250 gram tercatat Rp 686.515.000. Sementara itu, emas batangan 1.000 gram dibanderol Rp 2.745.600.000.
Daftar pecahan yang ikut bertahan
Stabilitas juga terlihat pada pecahan populer lain yang banyak dicermati pembeli. Emas 2 gram berada di Rp 5.550.000, disusul 3 gram Rp 8.300.000 dan 5 gram Rp 13.800.000.
Untuk ukuran 25 gram, harga tercatat Rp 68.737.000. Adapun emas 50 gram dijual Rp 137.395.000 dan pecahan 500 gram berada di Rp 1.372.820.000.
Dengan harga yang tidak bergerak di hampir seluruh ukuran, pasar domestik menampilkan pola yang berbeda dari tekanan di pasar internasional. Situasi ini memperlihatkan bahwa koreksi emas global belum langsung menular ke harga Antam.
Tekanan global datang dari sentimen geopolitik
Di pasar dunia, pelemahan emas muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan langkah pengamanan di Selat Hormuz melalui unggahan di media sosial dan menyebut telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menindak seluruh kapal yang mencoba keluar dari perairan selat tersebut.
Ketegangan itu ikut mendorong harga minyak mentah jenis Brent naik 3,1 persen menjadi US$ 105,07 per barel. Kenaikan minyak memperbesar risiko inflasi dan membuat ruang penurunan suku bunga acuan menjadi lebih sempit.
Di tengah kondisi seperti itu, emas menerima sinyal yang berlawanan. Di satu sisi, logam mulia kerap diburu saat tensi geopolitik naik, tetapi di sisi lain, ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi mengurangi daya tariknya.
Mengapa emas global justru turun
Emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Karena itu, ketika suku bunga bertahan tinggi, sebagian investor cenderung memilih aset lain yang lebih memberi kepastian pendapatan.
Faktor tersebut ikut menjelaskan mengapa harga emas dunia terkoreksi meski risiko geopolitik belum mereda. Pasar tampak lebih peka terhadap dampak harga minyak yang mahal terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral.
Iran sendiri masih menolak negosiasi dengan Amerika Serikat selama blokade di perairan internasional belum dicabut. Dengan latar itu, pelaku pasar terus memantau perkembangan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Di saat global bergerak tertekan, harga emas Antam yang bertahan di Rp 2.805.000 per gram menunjukkan bahwa pasar domestik masih bergerak stabil untuk sementara waktu. Situasi ini membuat pelaku pasar menunggu apakah tekanan dari luar akan mulai memengaruhi harga emas dalam negeri pada perdagangan berikutnya.