Di tengah rangkaian ibadah yang padat, jemaah haji perlu menjaga asupan makan agar tubuh tidak cepat drop. Aktivitas seperti tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, hingga melempar jumrah menguras tenaga, apalagi saat suhu Makkah bisa melampaui 40 derajat celcius.
Dalam kondisi seperti itu, pilihan makanan dan minuman tidak bisa dibiarkan seadanya. Hidrasi, sarapan yang tepat, serta camilan bernutrisi dapat membantu tubuh tetap bertenaga, tidak mudah lelah, dan lebih siap mengikuti seluruh rangkaian ibadah.
Hidrasi menjadi prioritas utama
Air putih perlu diminum sejak pagi, tanpa menunggu rasa haus muncul. Dehidrasi dapat membuat tubuh cepat lelah dan menurunkan konsentrasi, sehingga kebutuhan cairan harus dijaga sepanjang hari.
Jemaah dianjurkan minum sekitar 2 hingga 3 liter per hari, bahkan lebih ketika aktivitas semakin padat. Air kelapa, jus buah segar, dan minuman isotonik juga bisa membantu mengganti cairan dan mineral yang hilang, sementara kopi dan teh sebaiknya dibatasi karena dapat mempercepat dehidrasi.
Sarapan yang tahan lama lebih menguntungkan
Menu pagi berperan besar dalam menentukan daya tahan tubuh selama beraktivitas. Sarapan yang menggabungkan karbohidrat kompleks dan protein biasanya memberi energi lebih stabil dibandingkan makanan yang terlalu ringan.
Roti gandum, telur rebus, oatmeal, dan bubur termasuk pilihan yang mudah diterima tubuh. Buah seperti pisang dan apel juga praktis dibawa serta bisa memberi tambahan tenaga tanpa membuat perut terasa berat.
Protein dibutuhkan saat tubuh bekerja ekstra
Selama ibadah haji, otot bergerak lebih keras dari biasanya karena banyak berjalan dan berpindah lokasi. Karena itu, asupan protein harian penting untuk menjaga sekaligus memperbaiki jaringan tubuh, dengan kebutuhan yang diperkirakan sekitar 100 gram per hari.
Protein dapat diperoleh dari ayam, ikan, telur, dan susu. Menu seperti ayam panggang, sup ayam, atau ikan dengan nasi dan sayuran memberi kombinasi energi, protein, dan kemudahan pencernaan dalam satu sajian.
Camilan cepat saji yang tetap bernutrisi
Saat tenaga mulai turun di tengah aktivitas, kurma bisa menjadi pilihan yang praktis. Buah ini mengandung gula alami, serat, kalium, dan magnesium yang membantu tubuh memperoleh dorongan energi kembali.
Konsumsi tiga hingga lima butir kurma per sesi dinilai cukup membantu tanpa membebani pencernaan. Selain itu, kurma mudah dibawa saat jemaah berpindah tempat ibadah.
Porsi kecil lebih cocok untuk ritme padat
Pola makan dengan porsi kecil tetapi dilakukan empat hingga lima kali sehari lebih efektif untuk menjaga energi tetap stabil. Cara ini juga cenderung lebih ringan bagi tubuh dibandingkan makan dalam porsi besar yang bisa memicu rasa kantuk atau tidak nyaman saat bergerak.
Kebiasaan itu membantu menjaga kadar gula darah tetap seimbang. Bagi jemaah yang banyak berjalan dan sering berada di luar ruangan, polanya lebih sesuai dengan kebutuhan aktivitas harian.
Saat waktu makan terbatas, pilih yang ringan
Pada momen seperti wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jemaah kerap tidak memiliki banyak waktu untuk makan besar. Dalam situasi seperti ini, makanan ringan bernutrisi tinggi lebih sesuai karena lebih mudah dicerna dan tidak membebani tubuh.
Kacang almon dan kenari bisa menjadi pilihan karena mengandung lemak sehat yang membantu mempertahankan energi. Buah segar seperti semangka, jeruk, dan mentimun juga cocok karena tinggi kandungan air dan terasa lebih ringan di tubuh.
Kebersihan makanan tidak boleh diabaikan
Cuaca panas dan lingkungan yang padat meningkatkan risiko makanan cepat rusak atau terkontaminasi. Karena itu, makanan yang dikonsumsi perlu dipastikan masih segar dan disajikan dalam kondisi tertutup.
Jemaah juga perlu membiasakan mencuci tangan sebelum makan dan memeriksa tanggal kedaluwarsa pada makanan kemasan. Pengawasan dari otoritas kesehatan Arab Saudi memang berjalan, tetapi kehati-hatian pribadi tetap dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.
Kondisi kesehatan tertentu perlu penyesuaian
Jemaah dengan diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal perlu memperhatikan kebutuhan makan secara lebih spesifik. Konsultasi dengan dokter sebelum berangkat menjadi langkah penting agar asupan yang dibawa dan dikonsumsi tetap aman.
Penderita diabetes disarankan menyiapkan camilan dengan gula alami untuk mencegah gula darah turun. Sementara itu, jemaah dengan gangguan ginjal perlu mengontrol asupan protein dan garam, serta menjaga kecukupan cairan sesuai anjuran medis.
Dengan mengatur cairan, memilih sarapan yang tepat, menambah protein, dan menyiapkan camilan praktis seperti kurma, jemaah dapat menjaga stamina lebih stabil saat menjalani ibadah di tengah panasnya Makkah. Kebiasaan makan yang higienis dan penyesuaian sesuai kondisi kesehatan juga menjadi bagian penting agar tubuh tetap kuat sepanjang rangkaian haji.
Source: www.beritasatu.com