Hujan Meteor Paling Sibuk Justru Tersembunyi Di Siang Hari, Arietids Nyaris Tak Terlihat

Di antara banyak hujan meteor, Arietids termasuk yang paling aktif, tetapi justru paling sulit dinikmati dengan mata telanjang. Alasannya sederhana: sebagian besar kemunculannya terjadi pada siang hari, saat cahaya Matahari menenggelamkan jejak meteor yang melintas di atmosfer Bumi.

Fenomena ini membuat Arietids tampak seperti paradoks langit. Aktivitasnya tinggi, namun pamornya rendah karena titik radian hujan meteor ini berada sangat dekat dengan posisi Matahari sehingga kilau meteor hampir mustahil terlihat secara visual.

Terbaca oleh radar, bukan oleh mata

Keberadaan Arietids baru benar-benar dipahami setelah teknologi radar berkembang pada abad ke-20. Instrumen ini dapat mendeteksi ionisasi di atmosfer ketika partikel meteor berkecepatan tinggi masuk dan memanas, lalu meninggalkan jalur plasma tipis yang tetap bisa ditangkap alat.

Dengan cara itu, Arietids diketahui sangat aktif setiap tahun. Data radar bahkan menunjukkan aliran meteor ini berpotensi menghasilkan sekitar 50 hingga lebih dari 100 meteor per jam pada puncaknya.

Tanpa bantuan radar modern, hujan meteor ini mungkin tidak akan dikenal sebagai salah satu yang terbesar secara tahunan. Bagi astronom, Arietids menjadi contoh bahwa langit tidak selalu memperlihatkan semua hal penting secara langsung.

Cepat dan singkat saat melintas

Arietids juga menonjol karena kecepatannya. Partikelnya memasuki atmosfer dengan laju sekitar 39 kilometer per detik, atau lebih dari 140 ribu kilometer per jam.

American Meteor Society menjelaskan bahwa kecepatan seperti itu cukup untuk menghasilkan jejak cahaya terang dalam waktu yang sangat singkat. Dari Bumi, meteor ini kerap terlihat seperti kilatan cahaya atau panah bercahaya yang melesat cepat sebelum lenyap.

Ukuran partikelnya memang hanya sebesar butiran pasir, tetapi energinya saat bertumbukan sangat besar. Itulah sebabnya jejak cahaya Arietids bisa tampak jelas meski berlangsung sesaat.

Sumbernya belum pasti

Berbeda dengan banyak hujan meteor lain yang asal-usulnya sudah jelas, Arietids masih menyimpan tanda tanya. Perseids diketahui terhubung dengan komet Swift-Tuttle, sementara Leonids berasal dari komet Tempel-Tuttle, tetapi hubungan Arietids belum dipastikan seperti itu.

Sejumlah penelitian mengaitkannya dengan objek dekat Bumi yang diduga merupakan sisa inti komet tua. Namun, belum ada konsensus ilmiah yang benar-benar menegaskan sumber pembentuk aliran meteor ini.

In-The-Sky-org juga menilai asal-usul Arietids masih menjadi salah satu pertanyaan terbuka dalam studi meteor modern. Jadi, meski aktivitasnya sudah lama terukur, jejak awal pembentuknya tetap belum terpecahkan.

Peluang kecil, tetapi menarik bagi pengamat langit

Bagi penggemar astrofotografi, Juni menjadi waktu yang menarik karena bertepatan dengan periode yang dekat dengan puncak aktivitas Arietids. Pada saat yang sama, wilayah tropis termasuk Indonesia juga memberi kesempatan baik untuk mengamati inti Galaksi Bimasakti pada dini hari.

Kondisi itu membuat meteor Arietids kadang tertangkap melintas di depan latar Bimasakti dalam satu eksposur. IFLScience mencatat peluang menangkapnya tetap kecil, tetapi aktivitas hujan meteor yang cukup tinggi memberi kesempatan lebih besar dibanding malam biasa.

Meski begitu, Arietids tetap lebih sering terlewat karena terjadi saat langit masih terang. Publik pun jarang mengenalnya lewat pengamatan langsung, padahal aliran meteor ini termasuk yang paling aktif dalam setahun.

Bisa saja sudah pernah terlihat sejak lama

Sebelum ada teleskop dan radar, manusia kuno sudah lama memperhatikan langit dan mencatat berbagai fenomena astronomi. Karena sebagian meteor Arietids dapat muncul menjelang fajar, bukan tidak mungkin jejaknya sudah pernah dilihat sejak masa lampau.

Pada masa itu, meteor kerap dimaknai sebagai pertanda atau pesan dari dewa, bukan sebagai bagian dari aliran partikel kosmik yang sama. Baru dalam astronomi modern pola tahunan hujan meteor seperti Arietids bisa dipahami lebih jelas.

CosmoBC menyebut pemahaman tentang hujan meteor sebagai fenomena orbital berkembang pesat dalam dua abad terakhir. Arietids pun menunjukkan bahwa fenomena langit yang sangat aktif tidak selalu menjadi yang paling terkenal.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button