Hutan Kian Jauh, Rendang 120 Daun Terancam Hilang Bersama Pengetahuan Ibu-Ibu

Rendang 120 daun kini lebih sering menjadi cerita tentang sulitnya menjaga pengetahuan lama daripada sekadar soal masakan. Di Sumatra Barat, hidangan ini makin sukar dimasak karena daun-daun penyusunnya tidak lagi mudah dijangkau seperti dulu.

Gastronom dan peneliti pangan lokal Mei Batubara menyampaikan bahwa persoalannya bukan pada hilangnya minat warga. Ia melihat perubahan yang lebih mendasar, yaitu jarak antara desa dan hutan yang makin melebar sehingga bahan untuk tradisi itu ikut menjauh.

Bukan 120 lembar daun, melainkan 120 jenis

Angka 120 pada rendang ini kerap disalahpahami. Menurut Mei, angka itu merujuk pada 120 varietas daun yang menjadi bahan penyusunnya, bukan jumlah lembar daun dalam satu masakan.

Di balik resep tersebut, ada pengetahuan yang diwariskan melalui nama-nama lokal yang dijaga dalam ingatan keluarga. Menurut Mei, kini hanya tersisa dua atau tiga ibu-ibu yang masih mengetahui resep itu secara lengkap.

Mereka bukan hanya hafal jenis daun yang dipakai. Mereka juga memahami fungsi kesehatan dari masing-masing daun yang digunakan dalam masakan tersebut.

Daun masih ada, tetapi aksesnya berubah

Masalah terbesar justru bukan lenyapnya seluruh tanaman dari alam. Sebagian besar daun itu masih tumbuh di kawasan hutan, tetapi warga semakin sulit masuk ke wilayah tempat tanaman itu berada.

Saat tim peneliti berupaya mendokumentasikan resep ini, warga harus menyusuri berbagai sudut desa selama dua hari. Dari 120 jenis daun yang dibutuhkan, mereka hanya berhasil mengumpulkan sekitar 55 jenis.

Kondisi itu memperlihatkan betapa beratnya menyusun satu hidangan yang dulu jauh lebih mudah dibuat. Dalam dua hari pencarian, bahan yang terkumpul bahkan belum mencapai separuh kebutuhan resep.

Perubahan itu juga mengubah hubungan lama antara permukiman dan hutan. Dulu kawasan desa dan hutan berdekatan, tetapi kini permukiman berkembang lebih besar dan membuat jarak terasa semakin jauh.

Pengetahuan yang ikut terancam

Di dalam rendang 120 daun, tiap bahan punya makna lebih dari sekadar rasa. Ada daun yang dikaitkan dengan hipertensi, ada pula yang dipahami punya kegunaan untuk kelancaran haid.

Karena itu, ancaman terhadap hidangan ini tidak berhenti pada berkurangnya variasi masakan Nusantara. Yang ikut terancam adalah pengetahuan lokal tentang tumbuhan, pemanfaatan alam, dan cara masyarakat membaca khasiat bahan di sekeliling mereka.

Mei menilai kehilangan semacam ini berdampak pada keragaman kuliner sekaligus pengetahuan kesehatan tradisional. Semakin sulit bahan dikumpulkan, semakin besar risiko pengetahuan itu berhenti pada generasi yang masih mengingatnya sekarang.

Pelestarian tidak cukup lewat catatan

Kisah rendang 120 daun menunjukkan bahwa pencatatan resep saja belum tentu menyelamatkan tradisi. Selama masyarakat kehilangan akses ke ruang hidup tempat daun-daun itu tumbuh, hidangan tersebut tetap sulit dipraktikkan.

Karena itu, perlindungan bentang alam menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan pangan. Resep ini bisa bertahan dulu karena ada hutan yang dekat, ada pengetahuan yang hidup, dan ada warga yang masih mampu menjangkau bahan-bahannya.

Saat salah satu unsur itu terputus, mata rantai tradisi ikut melemah. Rendang 120 daun pun menjadi tanda bahwa masa depan pangan lokal bergantung pada lebih dari sekadar kemauan untuk mempertahankan masakan lama.

Source: www.suara.com
Exit mobile version