Indonesia Dibidik Jadi Pasar Penerbangan Keempat Dunia, Airbus Ikut Dorong Penguatan Industri

Dorongan untuk memperkuat industri penerbangan nasional kini bergerak seiring dengan proyeksi pasar yang makin besar. Pemerintah melihat Indonesia bukan hanya sebagai pengguna jasa aviasi yang tumbuh cepat, tetapi juga sebagai pasar yang berpotensi masuk jajaran empat terbesar di dunia pada 2030.

Keyakinan itu membuat sektor penerbangan kembali ditempatkan sebagai area strategis. Di saat kebutuhan mobilitas masyarakat terus naik, Indonesia sebagai negara kepulauan masih sangat bergantung pada konektivitas udara untuk menghubungkan wilayah dan mendukung pergerakan barang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut proyeksi International Air Transport Association atau IATA yang menempatkan Indonesia di posisi keempat pasar penerbangan dunia pada 2030. Pandangan itu memperkuat optimisme bahwa industri aviasi nasional masih punya ruang tumbuh yang besar.

Data McKinsey turut menunjukkan bahwa permintaan pesawat di dunia masih sangat tinggi. Sepanjang 2024, total pesanan pesawat global mencapai 15.700 unit, angka tertinggi yang pernah tercatat, meski industri tetap menghadapi tantangan operasional dan rantai pasok.

Pasar besar, kebutuhan armada ikut terdorong

Bagi Indonesia, tren global tersebut punya dampak langsung. Pertumbuhan mobilitas masyarakat dan posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat kebutuhan armada udara terus meningkat dari waktu ke waktu.

Lalu lintas udara nasional juga diproyeksikan terus menanjak dalam jangka panjang. Data International Civil Aviation Organization menunjukkan pada 2045 Indonesia diperkirakan akan mencatat sekitar 7,4 juta penerbangan dengan hampir 690 juta penumpang.

Angka itu menunjukkan bahwa penerbangan bukan sekadar urusan transportasi antarkota. Sektor ini juga menjadi tulang punggung konektivitas ekonomi, pemerataan pembangunan, dan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Kerja sama tidak berhenti di pembelian pesawat

Di tengah prospek itu, pemerintah mulai mendorong bentuk kerja sama yang lebih luas. Fokusnya bukan hanya pembelian pesawat, tetapi juga penguatan ekosistem industri di dalam negeri agar manfaatnya tidak berhenti pada transaksi pengadaan.

Langkah tersebut tercermin dalam penandatanganan Joint Declaration of Intent antara Kementerian PPN/Bappenas dan Airbus pada Rabu, 6 Mei 2026. Kesepakatan itu diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor dirgantara Indonesia dengan pendekatan yang lebih strategis.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa Indonesia sangat bergantung pada konektivitas udara. Menurut dia, konektivitas itu penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan mobilitas masyarakat.

Rachmat juga menilai kerja sama seperti ini harus memberi ruang bagi inovasi teknologi dan efisiensi operasional. Dengan begitu, kebutuhan transportasi udara bisa dijawab secara lebih efektif dalam jangka panjang.

Alih teknologi dan kapasitas SDM ikut dikejar

Pemerintah berharap kolaborasi dengan Airbus menghasilkan alih teknologi yang nyata. Agus menekankan bahwa kerja sama itu juga ditujukan untuk meningkatkan kandungan lokal dalam industri manufaktur pesawat udara.

Selain itu, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Pemerintah ingin kapasitas SDM di bidang teknologi kedirgantaraan ikut terdorong melalui kerja sama yang dibangun.

Satu aspek lain yang dinilai krusial adalah sistem maintenance, repair, and overhaul atau MRO. Elemen ini penting untuk menjaga keberlanjutan operasional pesawat dan mendukung ekosistem penerbangan yang lebih kuat di dalam negeri.

Rachmat menambahkan bahwa pengembangan ekosistem dirgantara nasional perlu melampaui peran Indonesia sebagai pasar semata. Ia menilai industri dalam negeri harus tumbuh lebih kuat agar Indonesia bisa menjadi pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan.

Ruang Indonesia di rantai pasok global

Pemerintah juga melihat peluang Indonesia untuk memperbesar peran dalam rantai pasok global kedirgantaraan. Jika kapasitas industri dan SDM terus meningkat, Indonesia tidak hanya berpotensi menyerap pasar, tetapi juga ikut memenuhi kebutuhan industri penerbangan dunia.

Prospek itu sejalan dengan proyeksi lalu lintas udara nasional yang terus tumbuh dalam beberapa dekade mendatang. Dengan pasar yang besar, kebutuhan armada yang meningkat, dan kerja sama internasional yang terarah, Indonesia punya ruang untuk memperdalam posisinya di industri penerbangan global.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version