Investor Justru Mengincar Stabilitas, Pertemuan Trump dan Xi Dinilai Menentukan Laju AI China

Investor global kini memusatkan perhatian pada satu hal yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan diplomatik biasa: apakah pembicaraan Donald Trump dan Xi Jinping akan menjaga laju reli kecerdasan buatan di China. Kekhawatiran utamanya bukan pada lahirnya kebijakan baru, melainkan pada kemungkinan tarik-ulur lama memicu gangguan yang tidak dibutuhkan pasar.

Bagi banyak pelaku pasar, sektor AI sudah berubah menjadi penopang utama optimisme di bursa China. Karena itu, setiap sinyal dari Beijing terkait hubungan dengan Washington dibaca sebagai ujian stabilitas, bukan sekadar forum untuk membahas sengketa lama.

AI kini lebih penting daripada sengketa dagang

Sejumlah manajer dana menilai risiko terbesar saat ini bukan lagi tarif atau aksi balasan perdagangan. Mereka justru berharap Trump dan Xi dapat menahan diri agar momentum bisnis di sektor teknologi, terutama AI, tetap berjalan tanpa gangguan berarti.

Harapan itu muncul ketika pasar saham China berada dalam fase yang relatif kuat. Shanghai Composite diperdagangkan di level tertinggi dalam 11 tahun, sementara ekspor China terus tumbuh kencang berkat gelombang pesanan yang didorong AI.

Surplus perdagangan China yang melebar pun belum membuat pasar panik. Sebaliknya, banyak manajer dana justru mengalihkan portofolio ke perusahaan dan proyek yang mendukung swasembada AI China.

Pasar membaca Beijing tidak datang dengan agenda besar

Di sisi lain, sejumlah investor menilai China tidak punya banyak kepentingan untuk membuka terlalu banyak kartu dalam pertemuan itu. Yang Tingwu, wakil manajer umum Tongheng Investment, mengatakan situasinya telah berbalik dan hanya sedikit hal yang ingin dibahas China dengan Trump.

Pembacaan serupa juga muncul dari cara pasar menilai arus modal dan kebijakan. Perang dagang bertahun-tahun serta ancaman tarif AS memang sempat mengguncang aset China, tetapi tekanan itu kini dianggap sudah mulai dicerna pasar.

Yuan menjadi salah satu contoh paling jelas. Mata uang China itu menguat selama setahun terakhir dan mencapai puncaknya dalam tiga tahun terakhir.

Teknologi China tetap menjadi tema utama

Di tengah ketegangan yang masih membayangi, investor tetap melihat kemajuan teknologi China sebagai narasi paling penting. Wen Xunneng, pendiri dan CEO Zhu Liu Asset Management, menilai China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, mengembangkan ekonomi baru, memperluas pengaruh global, dan meningkatkan daya tawarnya dalam persaingan kekuatan global.

Xunneng sendiri berinvestasi di infrastruktur AI dan berharap hubungan AS-China tetap stabil, setidaknya sampai Xi Jinping melakukan kunjungan balasan ke AS. Ia menilai tahap berikutnya memang bisa memunculkan persaingan baru, tetapi situasi saat ini masih tergolong relatif damai.

Bagi banyak pelaku pasar, pertemuan Trump dan Xi juga sudah memberi sinyal yang cukup positif. Tiffany Hsiao, manajer portofolio di Matthews Asia, mengatakan kedua pihak sudah berupaya bertemu dalam masa yang sangat sulit.

Menurut Hsiao, pertemuan tetap lebih baik daripada kegagalan komunikasi total seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Sikap itu menunjukkan kebutuhan pasar terhadap kepastian, meski tidak ada pengumuman besar yang mengejutkan.

Chip Nvidia ikut masuk pantauan

Salah satu isu yang paling dicermati dalam pembahasan AI adalah kemungkinan AS mengizinkan chip Nvidia yang lebih canggih dijual di China. Zeng Wanping, manajer dana Beijing Monolith Fund Management, menilai izin seperti itu dapat memberi tekanan pada produsen lokal.

Ia menegaskan bahwa perkembangan seputar AI menjadi satu-satunya hal yang layak dipantau dari pertemuan ini. Pandangan tersebut memperkuat anggapan bahwa arah hubungan Trump dan Xi kini tidak hanya ditentukan oleh tarif, tetapi juga oleh siapa yang akan memimpin perlombaan teknologi berikutnya.

Ketegangan AS-China memang sudah berlangsung bertahun-tahun dan sempat memuncak pada pemerintahan Trump. Namun, kondisi saat ini dinilai lebih melunak setelah Trump melakukan kunjungan pertamanya ke China dalam hampir sembilan tahun dan bertemu Xi Jinping di Korea Selatan pada Oktober 2025 untuk menyepakati gencatan senjata perang dagang.

Di saat yang sama, pengadilan AS telah membatalkan sebagian besar hambatan tarif awal Trump. Data perdagangan juga menunjukkan barang-barang China tetap mengalir ke AS melalui Asia Tenggara, sehingga pasar kini menunggu apakah pertemuan di Beijing akan menjaga stabilitas atau justru membuka babak baru dalam persaingan teknologi dan geopolitik kedua negara.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version