Iran memperkeras kontrol atas Selat Hormuz dengan menolak kapal militer milik negara yang dianggap musuh untuk melintas. Kebijakan ini membuat salah satu jalur laut paling penting di dunia kembali berada dalam sorotan karena menyangkut arus energi, perdagangan, dan potensi benturan militer.
Langkah Teheran menandai perubahan sikap yang lebih keras dibanding sebelumnya. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyebut Iran dulu masih memberi izin bagi peralatan militer yang ditujukan melawan negaranya, tetapi kini kebijakan itu sudah berubah.
Jalur strategis yang makin sensitif
Selat Hormuz bukan jalur biasa bagi pelayaran internasional. Kawasan ini berperan sebagai pintu utama distribusi minyak dan barang, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat cepat terasa ke pasar global.
Dalam kondisi seperti itu, pengetatan akses militer di selat tersebut menambah ketegangan yang sudah tinggi. Iran ingin memperkuat kendali atas lintasan yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Sinyal keras dari Teheran
Di tengah langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melontarkan peringatan keras. Ia menyatakan Teheran siap kembali ke konflik militer langsung jika negosiasi dengan Amerika Serikat terus buntu.
Sementara itu, negosiasi yang melibatkan Iran dan pihak-pihak terkait belum menunjukkan terobosan. Teheran menuntut kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, tetapi tuntutan itu ditolak negara-negara Teluk sehingga ruang kompromi makin sempit.
Aturan baru untuk lalu lintas kapal
Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan diuntungkan. Ia juga menegaskan bahwa pendukung proyek Washington akan ditolak aksesnya.
Pernyataan itu memperjelas arah kebijakan Iran di jalur strategis tersebut. Teheran tampaknya ingin memilah siapa yang boleh melintas, bukan sekadar menjaga arus pelayaran secara umum.
Dampak yang merembet keluar kawasan
Blokade Selat Hormuz sejak 28 Februari disebut telah mengganggu seperlima pasokan minyak dunia. Efeknya tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga mulai menekan ekonomi domestik Amerika Serikat.
Araghchi menulis di akun X miliknya bahwa warga Amerika kini harus menanggung biaya tinggi dari perang pilihan terhadap Iran. Ia menyebut kenaikan harga gas, tekanan pada pasar saham, lonjakan utang AS, dan meningkatnya suku bunga hipotek sebagai bagian dari efek berantai itu.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyerang Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dengan sindiran tajam. Ia menilai utang Amerika yang mencapai US$39 triliun bisa memicu krisis finansial global baru.
Tekanan di dalam negeri Iran tetap berat
Di balik sikap luar negeri yang keras, Iran masih menghadapi tekanan besar di dalam negeri. Inflasi pangan disebut melonjak hingga 115% pada bulan lalu, membuat harga minyak goreng, beras, dan ayam naik tajam hingga tiga kali lipat.
Nilai tukar rial di pasar gelap Teheran juga disebut merosot mendekati rekor terendah, sekitar 1,8 juta per dolar AS. Kondisi itu menambah beban masyarakat di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil.
Pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup
Meski nada Teheran terlihat keras, ruang mediasi masih dibuka. Setelah kebuntuan dalam dialog sebelumnya di Islamabad, Araghchi mengatakan Iran kini membuka peluang mediasi dari Beijing.
Sinyal itu muncul setelah pertemuan Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping, yang dinilai dapat membuka jalur komunikasi baru. Namun, peluang tersebut tetap berhadapan dengan suasana dalam negeri Iran yang masih tegang dan penuh pengawasan.
Media negara terus menyiarkan narasi siap perang, sementara kendaraan lapis baja dan pos pemeriksaan bersenjata masih bersiaga di jalan-jalan kota. Situasi itu menguat setelah tindakan keras pemerintah terhadap para pengunjuk rasa antikorupsi pada Januari lalu.
Otoritas Iran juga disebut memberlakukan pemadaman internet total selama 78 hari dan menjalankan eksekusi mati terhadap pembangkang politik hampir setiap hari. Semua ini menunjukkan bahwa ketegangan Iran tidak berhenti di Selat Hormuz, tetapi juga terus menekan ruang hidup di dalam negeri.
Source: mediaindonesia.com




