Langkah Donald Trump menyebarkan draf kesepakatan damai Iran ke sejumlah sekutu dekat, termasuk Israel, memunculkan kegelisahan baru di Tel Aviv. Alih-alih meredakan ketegangan, rancangan itu justru dipandang memberi terlalu banyak ruang kompromi kepada Teheran di tengah situasi Timur Tengah yang masih rapuh.
Kekhawatiran Israel terutama muncul karena isi proposal tersebut belum memberi jaminan tegas soal penghentian program nuklir Iran. Bagi Tel Aviv, tawaran itu terasa seperti membuka napas baru bagi Iran tanpa memastikan ancaman jangka panjang benar-benar hilang.
Isi kompromi yang ditawarkan
Salah satu poin utama dalam draf itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Dokumen tersebut juga memuat rencana pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Iran disebut akan memperoleh akses hingga USD 12 miliar dari aset yang selama ini dibekukan di luar negeri. Skema ini dinilai sebagai insentif ekonomi besar untuk mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.
Sebagai gantinya, pembicaraan baru soal program nuklir Iran akan dimulai dalam waktu 60 hari. Pembahasan itu mencakup stok uranium yang diperkaya, penghentian sementara pengayaan nuklir, dan pengawasan langsung oleh Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
Draf tersebut juga meminta Iran menegaskan kembali bahwa negara itu tidak akan menggunakan senjata nuklir. Namun, bagi Israel, redaksi seperti itu belum cukup kuat karena tidak memuat komitmen permanen dari Teheran untuk mengakhiri program nuklirnya.
Mengapa Tel Aviv keberatan
Dari sudut pandang Israel, rancangan itu terlalu longgar terhadap Iran. Masalah utamanya bukan hanya soal bahasa diplomatik, tetapi soal jaminan nyata bahwa kemampuan nuklir Iran tidak akan berkembang di masa depan.
Israel juga menilai skema tersebut dapat memberi keuntungan ekonomi yang besar bagi Iran tanpa memastikan penghentian penuh ambisi nuklirnya. Karena itu, proposal damai itu berpotensi memperlebar jarak pandang antara Washington dan sekutu utamanya di Timur Tengah.
Kekhawatiran itu muncul saat keamanan kawasan belum stabil. Dalam kondisi seperti ini, setiap kompromi yang dianggap terlalu lunak mudah memicu debat baru, baik di jalur diplomatik maupun keamanan.
Ketegangan di lapangan masih membayangi
Tekanan terhadap upaya diplomasi semakin besar setelah Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis waktu setempat. Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer Washington terhadap dugaan aktivitas drone Iran di dekat Selat Hormuz.
Situasi itu ikut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia sempat naik sekitar 2 persen, meski masih berada di bawah level USD 100 per barel.
Di saat yang sama, Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan masih memegang kendali penuh atas lalu lintas di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut 26 kapal tanker minyak dan kapal dagang sudah mendapat izin melintas dalam 24 jam terakhir.
IRGC juga menegaskan bahwa izin melintas wajib diperoleh dan jalur lain akan dianggap sebagai bentuk gangguan. Militer Iran bahkan mengklaim menghentikan empat kapal yang mencoba melintas tanpa menyalakan transponder, dengan dua kapal dipaksa berhenti dan dua lainnya diminta berbalik arah.
Jalur komunikasi belum tertutup
Di tengah tensi yang terus naik, Pakistan ikut mengambil peran sebagai penghubung. Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, dijadwalkan terbang ke Washington untuk bertemu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Pakistan bersama Qatar saat ini menjadi penghubung komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Peran ini menjadi penting karena jalur diplomatik resmi masih tersendat oleh saling ancam dan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi.
Dari sisi Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Ali Bagheri kembali menuntut agar aset-aset Iran yang dibekukan dicairkan tanpa syarat. Sementara itu, Washington merespons dengan ancaman sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran menerapkan sistem tarif atau pungutan di Selat Hormuz, termasuk Oman.
Trump juga memicu reaksi keras setelah mengancam akan “menghancurkan Oman” jika negara itu membuat kesepakatan dengan Iran soal pungutan kapal di jalur strategis tersebut. Pernyataan itu mengejutkan banyak diplomat kawasan karena Oman selama ini dikenal sebagai sekutu Barat dan mediator aktif di Timur Tengah.
Tekanan dari dalam Iran
Di dalam negeri, pimpinan tertinggi Iran Mojtaba Khamenei meminta para pejabat tidak terpecah oleh tekanan politik dan ekonomi. Ia menyebut Amerika Serikat dan Israel ingin membuat Iran bertekuk lutut melalui perpecahan dan kehancuran.
Amnesty International melaporkan lebih dari 6.000 orang telah ditangkap sejak ofensif militer AS dan Israel dimulai pada Februari lalu. Mereka yang ditahan disebut mencakup demonstran, jurnalis, pengacara, aktivis HAM, hingga kelompok minoritas etnis dan agama.
Di tengah rangkaian tekanan itu, draf damai yang disebarkan Trump menunjukkan Washington masih mencari jalan keluar diplomatik. Namun, dengan Israel yang belum puas, Iran yang tetap menuntut pencairan aset, dan ketegangan di Selat Hormuz yang belum mereda, ruang kompromi masih tampak sangat rapuh.
Source: www.viva.co.id