Jakarta Dikepung 8.000 Ton Sampah Sehari, Danantara Siapkan PSEL Rp 17,38 Triliun

Jakarta tengah didorong menambah kapasitas pengolahan sampah lewat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Listrik atau PSEL. Skema ini disiapkan sebagai respons atas tekanan sampah harian yang juga mencapai 8.000 ton, sementara timbunan lama di sejumlah titik, termasuk Bantar Gebang, sudah menjadi beban besar yang tak mudah diselesaikan.

Di balik rencana itu, kebutuhan investasinya tidak kecil. BPI Danantara menyiapkan sekitar Rp 17,38 triliun untuk membangun PSEL berkapasitas 8.000 ton per hari di Jakarta, dengan target fasilitas mulai beroperasi pada awal 2028.

Skala investasi yang besar

CEO BPI Danantara Rosan P. Roslani menjelaskan bahwa biaya pembangunan PSEL tidak bergerak lurus mengikuti kenaikan kapasitas. Ia menyebut fasilitas berkapasitas 1.000 ton per hari membutuhkan dana sekitar Rp 2 triliun.

Menurut Rosan, kapasitas 2.000 ton tidak otomatis membuat biaya menjadi dua kali lipat. Untuk skala 8.000 ton per hari, kebutuhan investasi disebut berada di kisaran 1 billion USD.

Besarnya angka itu menunjukkan bahwa proyek PSEL dipandang bukan sekadar proyek teknis. Pemerintah dan Danantara menempatkannya sebagai infrastruktur penting untuk meredam krisis sampah yang telah lama menekan Jakarta.

Fokus awal di dua lokasi

Rencana awal pembangunan sempat disusun di tiga titik. Namun, kesepakatan melalui nota kesepahaman yang ada saat ini baru mencakup dua lokasi, yaitu Bantar Gebang dan Tanjungan, Kamal Muara.

Dua lokasi itu menjadi perhatian karena berhubungan langsung dengan pusat penumpukan sampah Jakarta. Penetapan lokasi juga menjadi tahap awal sebelum proyek bergerak ke pembangunan yang lebih konkret.

Salah satu titik yang paling berat tetap berada di TPST Bantar Gebang. Timbunan di lokasi itu disebut telah mencapai 60 juta ton, sehingga kehadiran fasilitas baru diharapkan bisa mulai mengurangi beban yang terus bertambah.

Dorongan menambah kapasitas

Rosan juga membuka peluang agar kapasitas PSEL melampaui 8.000 ton per hari. Ia menyebut kapasitas itu dapat dinaikkan menjadi 10.000 ton atau 12.000 ton agar sampah lama yang sudah menumpuk bisa ikut terangkat.

Menurut Rosan, tujuan akhirnya adalah membuat area Bantar Gebang kembali bersih. Ia menilai pembangunan dengan skala lebih besar akan membantu memproses bukan hanya sampah harian, tetapi juga sampah lama yang sudah menjadi masalah kronis.

Dengan arah seperti itu, PSEL Jakarta diposisikan sebagai solusi yang lebih luas daripada sekadar pengurangan volume harian. Proyek ini diarahkan untuk menyentuh akar persoalan timbunan lama yang selama ini terus membebani pengelolaan sampah ibu kota.

Teknologi pengolahan dan penjualan listrik

Fasilitas PSEL nantinya akan memakai teknologi terbaru untuk mengolah sampah lama menjadi energi listrik. Rosan menyampaikan bahwa sampah lama tetap bisa diproses, meski tingkat keluaran energinya lebih rendah dibandingkan sampah baru.

Listrik hasil pengolahan itu akan dibeli oleh PLN. Rosan juga menyebut tarif penjualan ke PLN sudah tersedia dan berada di angka 20 sen dollar AS.

Skema tersebut membuat proyek ini memiliki dua fungsi sekaligus. Di satu sisi, timbunan sampah berkurang; di sisi lain, limbah perkotaan bisa diubah menjadi listrik untuk masuk ke sistem energi.

Dengan kondisi sampah Jakarta yang terus meningkat, rencana PSEL menjadi salah satu opsi terbesar yang disiapkan untuk menekan darurat sampah yang sudah berlangsung lama. Pembangunan fasilitas ini kini bergantung pada tahap lanjutan setelah lokasi awal dan kebutuhan investasi yang besar mulai dipetakan.

Exit mobile version