Di tengah gelombang mobil one-off dan restomod ekstrem, JC9 muncul sebagai proyek yang paling mudah menarik perhatian. Mobil ini bukan supercar baru dari pabrikan, melainkan karya coachbuilt yang dibangun di atas Porsche Carrera GT dan digarap oleh Jason Castriota.
Kehadirannya terasa relevan karena pasar mobil performa ultra-eksklusif kini semakin memberi ruang untuk proyek berbasis donor chassis. Dengan memanfaatkan teknologi manufaktur modern, pendekatan seperti ini memungkinkan lahirnya mobil yang sangat berbeda dari basis aslinya, tetapi tetap membawa karakter mekanis yang kuat.
Basis Carrera GT, tetapi tampil sepenuhnya baru
Porsche Carrera GT menjadi pondasi JC9, termasuk pada bagian crash structure, powertrain, suspensi, dan homologasi yang sudah tersedia dari mobil donor. Namun, hampir semua elemen visualnya dibangun ulang sehingga hasil akhirnya jauh dari kesan mobil produksi standar.
Seluruh bodinya memakai material serat karbon. Pilihan ini memberi kebebasan desain yang lebih besar sekaligus membantu menjaga bobot tetap ringan dan struktur tetap kaku.
Rasa klasik dari era prototype balap
Arah desain JC9 tidak dibuat sembarangan, melainkan diarahkan sebagai penghormatan terhadap era keemasan mobil balap sport prototype. Sumber inspirasinya datang dari dekade 1960-an hingga 1980-an, dengan rujukan utama pada mesin Group 6 era 1960-an serta Group 6 1969–1971.
Karena itu, bentuk JC9 terasa dramatis sekaligus klasik. Mobil ini seolah menjadi interpretasi modern atas mobil balap spesial masa lalu, bukan sekadar modifikasi kosmetik di atas supercar yang sudah ada.
Mesin V10 manual yang makin langka
Salah satu daya tarik terbesar JC9 ada pada jantung mekanisnya. Mobil ini tetap mempertahankan mesin V10 naturally aspirated yang dipadukan dengan transmisi manual, kombinasi yang semakin jarang ditemui di era elektrifikasi dan otomatisasi mobil performa tinggi.
Kabinnya juga masih membawa nuansa Carrera GT. Artinya, JC9 tidak hanya meminjam basis teknis dari donor chassis, tetapi juga menjaga atmosfer analog yang menjadi identitas penting dari mobil asalnya.
Warna Gulf Racing mempertegas karakter nostalgia
Pilihan kelir Gulf Racing membuat JC9 semakin kuat secara visual. Warna ini identik dengan Ford GT40 dan Porsche 917 pada era 1960-an hingga 1970-an, sehingga langsung memberi kesan historis yang sangat jelas.
Perpaduan warna ikonik, bentuk bernuansa prototype balap, dan basis Carrera GT membuat JC9 tampil dengan identitas yang padat. Mobil ini bukan hanya eksotis, tetapi juga dibangun untuk memancing ingatan pada masa lalu balap sport prototype.
Proyek panjang Jason Castriota bersama Miller Motorcars
JC9 dikembangkan selama bertahun-tahun oleh Jason Castriota bersama Miller Motorcars. Mobil ini kemudian tampil dalam perayaan 50 tahun Miller Motorcars bertajuk “Legends” yang digelar pada 30–31 Mei 2026.
Nama JC9 sendiri punya arti khusus. Huruf “JC” merujuk pada inisial Jason Castriota, sedangkan angka “9” menandai bahwa ini adalah proyek otomotif kesembilan yang ia ciptakan sepanjang kariernya.
Castriota bukan sosok asing di dunia desain mobil eksotis. Ia sebelumnya terlibat dalam Ferrari P4/5, Ferrari 599, Ferrari 612 Kappa, Maserati GranTurismo, Maserati Birdcage 75th, SSC Tuatara, Ford Mustang Mach-E, dan Bertone Mantide.
Kehadiran JC9 di acara “Legends” menambah daftar proyek one-off yang menunjukkan bagaimana basis donor dan teknologi manufaktur modern kini membuka ruang baru bagi mobil performa ultra-eksklusif. Mobil ini menjadi contoh paling jelas bahwa supercar unik masih punya tempat penting ketika desain khusus, identitas kuat, dan pendekatan coachbuilt disatukan dalam satu paket.
Source: www.bincangbincangmobil.com