Menjelang libur panjang bursa, IHSG masih sulit lepas dari tekanan jual dan bergerak di zona merah. Pada perdagangan pagi, indeks sempat dibuka menguat tipis, tetapi kemudian berbalik melemah 0,56 persen ke level 7.061 seiring dominasi aksi jual investor asing dan sentimen global yang belum benar-benar stabil.
Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung lebih hati-hati sejak awal sesi. Data Bursa Efek Indonesia mencatat volume perdagangan mencapai 3,96 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,71 triliun, sementara sebanyak 311 saham melemah, 213 saham menguat, dan 166 saham tidak bergerak dalam 206.962 kali frekuensi transaksi.
Tekanan terbesar datang dari keluarnya dana asing di pasar reguler. BRI Danareksa Sekuritas menyoroti net sell asing yang masih besar, yakni Rp986 miliar, dan arus keluar tersebut ikut menahan ruang penguatan IHSG meski minat beli domestik masih ada.
Di tengah kondisi seperti ini, pasar terlihat belum memiliki cukup tenaga untuk membalik arah pergerakan indeks. Selama tekanan jual masih dominan, IHSG cenderung bergerak mengikuti sentimen eksternal yang berubah cepat dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Tekanan global belum memberi ruang lega
Arah pasar domestik juga dipengaruhi berbagai isu eksternal yang masih bergerak dinamis. Investor mencermati rencana Uni Emirat Arab keluar dari OPEC yang berpotensi mengubah dinamika harga minyak global, bersamaan dengan keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga di level 3,5–3,75 persen.
Kombinasi faktor itu membuat pelaku pasar cenderung menahan diri dari posisi agresif. Di saat yang sama, pergerakan rupiah juga ikut menjadi perhatian karena menambah tekanan bagi pasar saham Indonesia.
Gerak IHSG dinilai masih terbatas
Dari sisi teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang bergerak dalam pola sideways. Riset tersebut menempatkan area support di level 7.000 dan resistance di 7.160, sehingga ruang gerak indeks dalam jangka pendek masih terlihat sempit.
Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa indikator MACD masih menunjukkan pelebaran histogram negatif. Sementara itu, stochastic RSI berada di area oversold, kondisi yang membuat pasar tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung menjelang long weekend.
“IHSG berpeluang menguji MA-5 di sekitar level 7.156. Namun perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang long weekend,” tulis Phintraco Sekuritas.
Libur panjang dorong sikap defensif
Menjelang libur panjang bursa, transaksi biasanya cenderung melambat karena investor memilih bersikap lebih defensif. Situasi ini membuat sentimen jangka pendek bisa bergerak lebih cepat dan memicu fluktuasi indeks yang lebih tajam dari biasanya.
Sejumlah saham juga masuk pantauan perdagangan hari ini, termasuk CDIA, AKRA, dan SMDR. Minat pasar terhadap emiten tertentu memang bisa memberi dukungan sesaat, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah arah IHSG secara keseluruhan.
Wall Street, rupiah, dan yield obligasi ikut menekan
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Dalam risetnya, sentimen negatif dari Wall Street dan pelemahan rupiah masih menjadi tekanan utama bagi pasar domestik.
Meski demikian, ada pula katalis yang berpotensi membantu pergerakan sebagian saham. Kenaikan harga komoditas energi dan rilis laporan keuangan kuartal I–2026 disebut bisa memberi dukungan pada emiten tertentu yang sensitif terhadap harga komoditas.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 7.025–6.950 dan resistance 7.180–7.255,” tulis CGS International.
Panin Sekuritas menambahkan bahwa pelemahan IHSG juga dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik serta naiknya yield obligasi di Amerika Serikat maupun domestik. Kondisi itu diperberat oleh masih derasnya outflow dana asing dari pasar saham Indonesia, sehingga pasar tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global dalam waktu dekat.
Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang disebut berencana tetap menjabat untuk menghadapi tantangan independensi bank sentral AS. Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga kali ini juga mencatat perbedaan pendapat tertinggi di antara para pembuat kebijakan sejak 1992, yang menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar keuangan global.





