Perjalanan ke Bulan dan Mars bukan hanya soal mendarat, tetapi juga menjaga ruang hidup agar tetap layak ditinggali. Di habitat tertutup, kuman yang ikut terbawa manusia dapat menempel pada kain, menyebar di antara kru, dan bertahan di permukaan yang tampak bersih.
Situasi itu membuat sanitasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan dalam misi antariksa jangka panjang. Di orbit rendah saja, permukaan seperti pegangan tangan dan ventilasi udara masih bisa menyimpan populasi mikroba yang padat meski protokol kebersihannya ketat.
Sebuah eksperimen laboratorium kini menawarkan pendekatan berbeda untuk masalah tersebut. Tim peneliti menguji jet plasma supercharged sebagai cara membersihkan bahan kain dan permukaan lunak tanpa air.
Fokus pada titik terlemah di habitat
Gabe Xu, profesor di University of Alabama, memimpin uji itu dengan perhatian khusus pada benda-benda lunak yang dipakai berulang dalam kehidupan sehari-hari di ruang tertutup. Contohnya adalah sofa di habitat bersama, pakaian, dan tempat tidur yang bisa menjadi tempat berkumpulnya mikroba.
Xu bekerja bersama mikrobiolog Chelsi Cassilly dan seorang engineer perlindungan planet NASA. Mereka ingin mengetahui apakah plasma dapat menjadi jawaban untuk pembersihan yang lebih praktis di lingkungan antariksa.
Dalam uji tersebut, tim memotong kaus katun biasa menjadi sampel kecil. Lalu mereka menanamkan bakteri kulit Staphylococcus caprae di atas kain itu karena bakteri tersebut umum ditemukan di kulit dan juga pernah terdeteksi di ISS.
Hasil yang menonjol di laboratorium
Setelah itu, sampel kain disinari jet gas bermuatan yang tipis dan berwarna ungu terang. Plasma yang diarahkan dengan perangkat seukuran ponsel itu bekerja lebih efektif membunuh bakteri dibanding metode yang saat ini digunakan di ISS, termasuk vacuuming kering dan lap permukaan berbahan kimia.
Menurut Xu, tujuan teknologi ini bukan untuk membersihkan noda kopi di pakaian. Target utamanya adalah menghapus kuman yang berisiko membuat manusia sakit.
Cara kerjanya bergantung pada partikel reaktif yang terbentuk saat plasma mengenai kain. Spesies oksigen dan nitrogen yang sangat reaktif menembus serat lalu merusak membran sel bakteri melalui stres oksidatif.
Cocok untuk kebutuhan operasi di ruang tertutup
Pengujian berlangsung antara 30 detik hingga lima menit. Selama perlakuan itu, tidak terlihat kerusakan pada serat kain, dan Xu menilai dampaknya kemungkinan tidak lebih buruk daripada keausan normal.
Keunggulan lain ada pada kebutuhan energinya yang sederhana. Sistem ini hanya memerlukan listrik dan gas kerja, sehingga tidak bergantung pada pasokan air untuk proses pembersihan.
Hal tersebut penting karena banyak disinfektan umum di Bumi, seperti Lysol, kurang cocok untuk penerbangan antariksa. Droplet dan uap kimia bisa bertahan di habitat tertutup dan menimbulkan risiko bagi kesehatan kru.
Masih diperluas ke mikroba lain
Riset berikutnya diarahkan pada spesies mikroba lain yang dikenal hidup di lingkungan manusia dan di wahana antariksa. Fokusnya adalah organisme yang paling mungkin hadir karena dibawa atau dihasilkan manusia setiap hari di habitat ruang angkasa.
Tim juga membayangkan teknologi ini berkembang menjadi perangkat genggam. Alat seperti itu dapat dipakai astronaut untuk housekeeping rutin di pesawat ruang angkasa dan habitat masa depan.
Hasil awal eksperimen tersebut telah dipresentasikan di The Astrobiology Science Conference di Madison. Dari sana, plasma tanpa air mulai dilihat sebagai salah satu kandidat untuk membantu menjaga kebersihan di basis Bulan dan Mars.