Kebutuhan Dana Melesat Hingga Rp 7.400 Triliun, IPO Didorong Jadi Andalan Pasar Modal

Dorongan agar penawaran umum perdana saham atau IPO bergerak lebih cepat kembali menguat di tengah kebutuhan pendanaan nasional yang terus membesar. Pasar modal dipandang perlu mengambil peran lebih besar sebagai sumber dana jangka panjang, terutama saat pembiayaan ekonomi tidak lagi bisa bertumpu pada satu jalur saja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai penguatan penghimpunan dana melalui IPO menjadi penting untuk menjaga aliran pembiayaan tetap tersedia. Dalam situasi ketidakpastian global, pasar modal disebut harus lebih sigap menarik dana segar agar kebutuhan dunia usaha dan ekonomi nasional dapat terus terlayani.

Kebutuhan dana makin besar

Kebutuhan pendanaan nasional diperkirakan mencapai Rp 7.400 triliun pada 2026 dan naik menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan ekonomi memerlukan dukungan dari banyak sumber, termasuk pasar modal, sektor swasta, masyarakat, dan jasa keuangan.

Di sisi riil, aktivitas investasi masih terus berjalan. Pada triwulan I-2026, investasi sektor riil tercatat Rp 498,79 triliun, tumbuh 7,22 persen, dan menyerap 706.000 tenaga kerja. Data itu memperlihatkan bahwa ketersediaan pembiayaan yang sehat tetap menjadi faktor penting agar kegiatan ekonomi tidak terhambat.

Laju IPO masih tertinggal

Meski kebutuhan dana meningkat, realisasi IPO sepanjang tahun berjalan masih terbatas. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia hingga 17 April 2026, baru satu perusahaan yang resmi mencatatkan saham perdananya di bursa.

Perusahaan tersebut adalah PT BSA Logistic Indonesia Tbk (WBSA) yang meraih dana Rp 0,30 triliun. Di saat yang sama, masih ada 16 emiten yang berada dalam antrean pencatatan saham, sehingga laju masuknya perusahaan ke pasar modal dinilai belum sejalan dengan kebutuhan pembiayaan yang ada.

Antrean didominasi calon emiten besar

Data pipeline BEI menunjukkan sebagian besar calon emiten berasal dari perusahaan dengan aset besar. Sebanyak 11 perusahaan memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sedangkan lima lainnya tercatat masuk kategori aset menengah.

Dari sisi sektor, calon emiten datang dari beragam industri strategis. Sektor konsumsi dan kesehatan menjadi yang paling banyak, lalu disusul teknologi, infrastruktur, energi, dan finansial.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan yang bersiap menghimpun dana di bursa berasal dari bidang usaha yang dekat dengan kebutuhan ekonomi riil. Karena itu, IPO tidak hanya dilihat sebagai cara perusahaan mencari modal, tetapi juga sebagai jalur untuk memperluas akses pembiayaan di sektor-sektor penopang pertumbuhan.

Pasar modal diminta lebih aktif

Pemerintah menempatkan pasar modal sebagai salah satu pilar penting untuk menyediakan dana jangka panjang bagi dunia usaha. Peran itu dianggap makin relevan karena target pembiayaan nasional yang besar membutuhkan instrumen yang mampu menghimpun dana secara luas dan berkelanjutan.

Airlangga menekankan bahwa kondisi global yang belum pasti membuat fungsi pasar modal semakin strategis. Dalam situasi seperti ini, percepatan IPO dipandang dapat membantu perusahaan memperoleh modal sekaligus memperluas basis pendanaan ekonomi nasional.

Tekanan untuk memperbanyak IPO juga sejalan dengan kebutuhan menjaga daya dukung pasar modal terhadap perekonomian. Dengan keterlibatan sektor swasta dan jasa keuangan yang lebih kuat, pembiayaan nasional diharapkan tetap terjaga di tengah kebutuhan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

Exit mobile version