Gelombang pembatalan konser Kanye West di Italia lahir dari kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada sekadar jadwal panggung. Otoritas Reggio Emilia menilai acara itu berisiko memicu gangguan serius pada ketertiban umum dan keselamatan publik, terutama karena skala massa yang diperkirakan akan berkumpul di RCF Arena.
Keputusan itu langsung menghentikan rencana penampilan West di Pulse of Gaia Festival, yang sedianya digelar di arena yang sama. Langkah tersebut juga ikut menyeret satu acara besar lain yang sudah dijadwalkan berdekatan, karena pemerintah daerah menilai kombinasi dua konser raksasa dalam rentang waktu singkat terlalu berbahaya.
Risiko kerumunan jadi alasan utama
RCF Arena di Reggio Emilia disebut memiliki kapasitas sekitar 103.000 penonton. Dalam rentang 24 jam, otoritas menilai potensi kehadiran massa bisa memberi tekanan besar pada keamanan, pengaturan lalu lintas, dan ketertiban di sekitar lokasi.
Pertimbangan itu membuat prefek kota, Salvatore Angieri, mengambil langkah tegas setelah dilakukan pertemuan khusus oleh pemerintah Reggio Emilia. Komite yang menilai aspek ketertiban umum dan keselamatan kemudian meminta pemeriksaan tambahan sebelum keputusan larangan dijatuhkan.
Kekhawatiran protes ikut memperberat penilaian
Selain soal jumlah penonton, pemerintah daerah juga menyoroti kemungkinan munculnya demonstrasi tandingan. Kekhawatiran ini menguat karena penampilan West sejak awal sudah memicu keberatan dari sebagian komunitas Yahudi setempat.
Komunitas itu disebut menyoroti pernyataan anti-Semit yang pernah dibuat West. Faktor tersebut ikut masuk dalam penilaian aparat ketika mereka memutuskan bahwa pembatalan lebih aman daripada mengambil risiko di lokasi konser yang berpotensi dipadati massa.
Kontroversi lama Kanye West kembali jadi sorotan
Kanye West, yang mengubah namanya menjadi Ye pada 2021, memang lama berada di bawah pengawasan publik karena komentar dan tindakannya yang dianggap anti-Semit. Ia pernah dikritik atas unggahan bernada anti-Semit, penjualan kaus swastika di situsnya, serta pernyataannya yang menyebut perbudakan sebagai “a choice”.
Pada Januari, West memasang iklan satu halaman penuh di Wall Street Journal untuk meminta maaf melalui judul “To Those I’ve Hurt”. Dalam pernyataan itu, ia menulis, “I am not a Nazi or an antisemite. I love Jewish people.”
Ia juga menyebut gangguan bipolar membuatnya masuk ke dalam “a four-month-long, manic episode of psychotic, paranoid and impulsive behaviour that destroyed my life”. Setelah konsernya dibatalkan di Wireless Festival London, West sempat menawarkan diri untuk bertemu komunitas Yahudi di London “to listen”.
Dampaknya meluas ke jadwal konser lain
Pembatalan di Italia menambah daftar gangguan terhadap jadwal tampil West dalam beberapa bulan terakhir. Pada April, pertunjukannya di Marseille ditunda setelah ia lebih dulu ditolak visa Inggris pada bulan yang sama, yang kemudian berujung pada pembatalan penampilan utamanya di Wireless Festival London.
Meski demikian, beberapa jadwal lain masih tercantum. West disebut akan tampil di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, pada Sabtu, dan juga masih dijadwalkan manggung di Gelredome, stadion sepak bola Vitesse Arnhem di kota Belanda, pada 6 dan 8 Juni.
Pembatalan di Reggio Emilia juga berdampak pada Travis Scott, yang konsernya di Hellwatt Festival pada 17 Juli ikut dibatalkan. Nama Scott sendiri masih dikaitkan dengan tragedi Astroworld di Houston pada 2021, saat 10 orang berusia 9 hingga 27 tahun meninggal akibat penonton berdesakan ke arah panggung.
West dikenal lewat tiga singel nomor satu dan tiga album nomor satu di Inggris, termasuk Black Skinhead, Gold Digger, dan Stronger. Scott memiliki lima singel top 10 Inggris dan satu album nomor satu lewat Utopia, dan keduanya telah dihubungi untuk dimintai komentar.