Kenyamanan Stadion Jadi Kunci, I.League Bidik Penonton Kelas A-B Lewat Pengalaman Tonton Lebih Aman

Bagi I.League, pertandingan sepak bola Indonesia tidak lagi cukup hanya menawarkan skor akhir dan atmosfer tribun. Operator liga kini melihat peluang yang lebih besar: membuat laga domestik terasa seperti pilihan hiburan utama bagi penonton kelas A-B.

Arah itu muncul karena pasar tiket masih bergerak dan menunjukkan ruang tumbuh yang besar. Direktur Bisnis dan Komersial I.League, Sadikin Aksa, menyebut penjualan tiket pertandingan untuk satu musim sudah berada di atas Rp100 miliar untuk seluruh klub.

Pasar yang sudah hidup, tetapi belum maksimal

Angka tersebut menjadi tanda bahwa minat terhadap laga sepak bola domestik terus berkembang. I.League menilai pendapatan dari tiket tetap memegang peran penting bagi klub, bersama sponsor.

Meski begitu, potensi yang ada disebut belum tergarap optimal. Basis penggemar sepak bola di Indonesia sangat besar dan loyal, termasuk mereka yang aktif mengikuti klub luar negeri.

Dari situ, I.League melihat masih ada ruang untuk memperluas pasar tanpa meninggalkan penonton yang sudah ada. Fokusnya bukan hanya menjaga basis B-C, tetapi juga mendorong minat dari kelompok dengan daya beli lebih tinggi.

Penonton A-B jadi target yang ingin didekati

Segmen A-B dipandang sebagai kelompok penting untuk menaikkan nilai industri sepak bola nasional. I.League menilai kelompok ini punya kemampuan belanja lebih besar dan bisa membantu mengangkat pendapatan pertandingan.

Sadikin menegaskan bahwa perhatian ke A-B tidak berarti meminggirkan pasar lain. Namun, jika liga ingin mendorong pendapatan lebih jauh, penonton dari kelompok atas tetap harus dijangkau.

Upaya itu berkaitan langsung dengan cara pertandingan dikemas. Menurut I.League, tantangannya bukan semata soal kualitas permainan di lapangan, melainkan pengalaman yang dirasakan penonton sejak tiba di stadion.

Kenyamanan jadi pembeda utama

Bagi penonton kelas A-B, rasa aman dan nyaman disebut menjadi pertimbangan besar. Akses masuk stadion, kondisi area pertandingan, hingga pengalaman setelah laga selesai ikut menentukan apakah mereka bersedia datang langsung.

Sadikin menilai pengalaman menonton yang tertata bisa membuat sepak bola lebih ramah bagi keluarga dan lintas usia. Karena itu, stadion tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat pertandingan, tetapi juga harus memberi pengalaman hiburan yang utuh.

Di titik ini, I.League bahkan membandingkannya dengan hiburan lain seperti menonton film di bioskop. Pesannya jelas, stadion perlu memberi nilai pengalaman yang mampu bersaing dengan pilihan rekreasi lain di luar sepak bola.

Atmosfer stadion harus dijual sebagai pengalaman

I.League menilai banyak orang sebenarnya tertarik datang ke stadion untuk merasakan langsung suasana laga. Namun, hambatan soal kenyamanan masih membuat sebagian penonton menunda keputusan tersebut.

Contoh yang dinilai memberi pelajaran datang dari atmosfer pertandingan tim nasional senior Indonesia. Menurut I.League, penyelenggaraan yang tertib, nyaman, dan aman dapat membuat pengalaman menonton terasa lebih layak dipilih oleh segmen A-B.

Dari sudut pandang itu, stadion seharusnya tidak hanya menjual pertandingan sebagai tontonan olahraga. Stadion juga perlu menawarkan proses datang, menikmati laga, hingga pulang dengan aman sebagai bagian dari satu pengalaman hiburan yang lengkap.

Jika pengalaman seperti itu bisa diwujudkan secara konsisten, laga sepak bola domestik berpeluang menjadi pilihan hiburan yang lebih kuat. I.League melihat langkah tersebut sebagai jalan untuk membuat stadion lebih kompetitif di tengah banyaknya alternatif rekreasi, termasuk bioskop.

Source: bola.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button