Kepengasuhan Bukan Urusan Rumah Saja, Kalis Mardiasih Sorot Peran Negara dan Kebijakan

Pengasuhan kerap dibicarakan seolah-olah hanya urusan orang tua dan anak di dalam rumah. Kalis Mardiasih melalui buku Parenting di Negara Gagal justru menunjukkan bahwa cara anak dibesarkan ikut ditentukan oleh negara, kebijakan, dan kondisi sosial di luar rumah.

Pandangan itu menggeser beban parenting dari ranah pribadi ke persoalan yang jauh lebih luas. Dalam kerangka ini, ketimpangan, perlindungan sosial yang minim, dan paradoks di ruang publik ikut membentuk nilai yang kemudian dipelajari anak di rumah.

Anak menyerap nilai dari banyak arah

Buku ini menempatkan anak sebagai pihak yang tidak hanya belajar dari ayah dan ibu. Tetangga, teman sebaya, figur publik, hingga pejabat yang tampil di media juga ikut menyusun cara anak memahami dunia.

Karena itu, ajaran tentang kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab tidak selalu berjalan mulus. Di saat orang tua mengajarkan nilai baik, anak bisa berhadapan dengan kabar korupsi atau gaya hidup mewah elite yang ditampilkan secara terbuka.

Rumah tidak berdiri sendiri dari ruang publik

Kalis Mardiasih menyoroti bahwa pengasuhan tidak berhenti di pintu rumah. Lingkungan sosial dan contoh yang muncul di ruang publik turut memengaruhi cara keluarga membangun nilai sehari-hari.

Situasi ini membuat orang tua menanggung beban ganda. Mereka bukan hanya membimbing anak di rumah, tetapi juga harus menjelaskan mengapa realitas di luar rumah sering bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan.

Dari pola komunal ke layanan yang dibayar

Salah satu titik penting dalam buku ini adalah menyusutnya pengasuhan komunal. Dulu, anak tumbuh di lingkungan yang lebih kolektif sehingga banyak orang di sekitar ikut berperan dalam pengasuhan dan pewarisan nilai lokal.

Kini, banyak fungsi itu bergeser ke layanan yang harus dibayar. Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara anak dibesarkan, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang tanggung jawab bersama dalam mengasuh.

Ketimpangan membuat dunia anak terasa makin kabur

Buku ini juga mengajak orang tua berbicara dengan anak tentang ketidaksetaraan. Kalis menyoroti bahwa konsep kekayaan menjadi makin kabur ketika anak terus terpapar konten serba mewah di media sosial dan platform digital.

Paparan semacam itu membuat sebagian anak sulit memahami bahwa tidak semua orang hidup dalam keadaan yang sama. Jarak antara konten yang mereka lihat dan realitas sehari-hari bisa membuat gambaran tentang hidup orang lain terasa tidak utuh.

Tidak semua pola parenting cocok diperlakukan sebagai universal

Buku Parenting di Negara Gagal juga mengkritik dominasi gagasan pengasuhan dari negara maju yang kerap diperlakukan sebagai acuan umum. Menurut Kalis, pendekatan seperti itu tidak selalu pas diterapkan di Indonesia karena kondisi sosial, ekonomi, dan keamanan berbeda.

Perbedaan konteks itu membuat pengasuhan tidak bisa disederhanakan menjadi satu formula. Orang tua perlu membaca lingkungan tempat anak tumbuh, termasuk situasi yang dibentuk oleh kebijakan publik dan kualitas ruang hidup yang tersedia.

Beban keluarga sangat dipengaruhi arah politik

Buku ini menegaskan bahwa pengasuhan tidak lepas dari politik. Ketika kebijakan tidak konsisten dan kurang berpihak pada masyarakat, beban orang tua untuk menyediakan lingkungan yang aman dan sehat bagi anak ikut membesar.

Dari sana terlihat bahwa ruang bermain yang aman, pemahaman yang utuh tentang ketimpangan, dan kebiasaan kerja sosial tidak hadir begitu saja. Semua itu membutuhkan dukungan sistem sosial yang memadai, bukan hanya usaha keluarga di rumah.

Pada akhirnya, Parenting di Negara Gagal memandang pengasuhan sebagai upaya membayangkan masa depan anak dalam ruang sosial yang nyata. Metode, fasilitas, dan media belajar tetap penting, tetapi masa depan itu juga ditentukan oleh lingkungan yang mengelilingi anak dan oleh kebijakan yang membentuk kualitas hidup mereka.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version