Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali naik ketika Iran menunjukkan bahwa jalur sempit itu masih berada dalam pengaruh kuatnya. Pada saat pembicaraan damai gagal meredakan situasi, Teheran justru menampilkan operasi di laut yang menegaskan bahwa titik sempit tersebut tetap menjadi kartu tekan paling sensitif dalam konflik yang belum menemukan jalan keluar.
Selat Hormuz bukan sekadar rute pelayaran biasa. Jalur ini dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia, sehingga setiap gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran pasar energi internasional dan membuat negara-negara konsumen memantau perkembangan dengan sangat ketat.
Aksi di laut dan pesan politik
Tayangan media negara Iran memperlihatkan pasukan komando bertopeng mendekati kapal kargo besar MSC Francesca dengan speedboat abu-abu. Setelah itu, mereka memanjat lambung kapal dan masuk sambil membawa senjata, lalu tayangan lain menunjukkan kapal Epaminondas yang disebut Iran juga telah dikuasai pada Rabu.
Teheran menyatakan tidak akan membuka kembali selat itu selama Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran. Sikap tersebut membuat Hormuz bukan hanya jalur dagang, tetapi juga alat tekan politik yang dipakai dalam pertarungan yang belum selesai.
Dari sisi Washington, Amerika Serikat sebelumnya mengatakan sedang menghadapi kapal-kapal Iran di perairan internasional untuk menegakkan blokadenya sendiri. AS juga menyebut telah menaiki tanker Majestic di Samudra Hindia, yang diduga merujuk pada supertanker Phonix dengan muatan 2 juta barel minyak mentah.
Rundingan yang tersendat
Situasi makin rumit setelah pembicaraan damai terhenti pada Selasa, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir. Berhentinya pembicaraan itu membuat arah penyelesaian konflik dan keamanan jalur pelayaran menjadi semakin tidak pasti.
Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran masih mungkin hadir dalam pertemuan di Pakistan. Namun, syarat yang tetap diajukan tidak berubah, yakni blokade AS harus dicabut dan kapal-kapal Iran yang disita harus dibebaskan.
Pakistan, yang menjadi tuan rumah pembicaraan bulan ini, masih berkomunikasi dengan kedua pihak setelah putaran kedua batal digelar. Meski begitu, sumber pemerintah Pakistan menyebut pejabat Iran belum bersedia memastikan pengiriman delegasi karena blokade AS dan sejumlah alasan lain.
Tekanan militer dari dua sisi
Presiden AS Donald Trump menambah ketegangan lewat unggahan di Truth Social. Ia mengatakan telah memerintahkan Angkatan Laut untuk “shoot and kill” kapal-kapal Iran yang memasang ranjau di selat itu dan meminta aktivitas penjinakan ranjau ditingkatkan.
Namun, pernyataan itu tidak menjelaskan langkah untuk menghadapi cara lain yang dipakai Iran, termasuk speedboat, rudal, dan drone. Celah ini memperlihatkan bahwa kawasan tersebut masih rawan terhadap berbagai bentuk eskalasi di luar satu jenis ancaman saja.
Dari pihak Iran, Ketua kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei menyebut kapal dagang yang diserang di selat itu telah “menghadapi hukum”. Ia juga mengatakan speedboat dan drone laut Iran berlindung di gua-gua laut dekat sebuah pulau di sekitar selat, sehingga kapal perang AS tidak bisa mendekat.
Wakil ketua parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menambahkan bahwa pendapatan pertama dari tarif yang dipungut Iran atas kapal yang menggunakan selat telah ditransfer ke bank sentral. Ia tidak menjelaskan siapa yang membayar atau berapa jumlahnya, tetapi pernyataan itu memperkuat kesan bahwa Teheran ingin menegaskan otoritas penuh atas jalur tersebut.
Dampak langsung ke pasar global
Perebutan pengaruh di Hormuz segera terasa di pasar keuangan dan energi. Harga minyak kembali naik, sementara investor menunggu dengan cermat arah konflik karena gangguan di jalur utama energi dunia selalu membawa risiko besar bagi perdagangan global.
Pada perdagangan Kamis, saham turun di Jepang, Hong Kong, Inggris, dan Jerman, tetapi naik di Korea Selatan dan Prancis. Brent juga naik 0,5% menjadi $102.40 per barel, mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan di selat itu belum menunjukkan tanda mereda.
Di tengah tekanan tersebut, Washington belum mencapai tujuan awal perang yang diumumkan Trump, termasuk melemahkan kemampuan Iran menyerang negara tetangga dan menghentikan program nuklirnya. Iran tetap mempertahankan rudal, drone, dan cadangan uranium yang diperkirakan badan atom PBB melebihi 400 kg, sehingga Selat Hormuz tetap menjadi salah satu kartu paling kuat yang dimiliki Teheran.