Keyboard Fisik Kembali Dilirik, Cara Baru Mengurangi Layar Ponsel dan Menjaga Fokus

Bagi sebagian pengguna, ponsel ber-keyboard fisik kini bukan sekadar benda lawas yang memancing nostalgia. Perangkat seperti ini justru dipilih karena terasa lebih membantu menjaga kebiasaan memakai ponsel agar tidak berlebihan.

Minat itu muncul di tengah kejenuhan terhadap layar sentuh yang membuat banyak orang mudah terseret ke aplikasi dan media sosial. Di ceruk ini, ponsel bergaya BlackBerry kembali mendapat tempat karena menawarkan cara pakai yang lebih terarah dan tidak terlalu mengundang kebiasaan menggulir layar tanpa henti.

Bukan cuma mengingat masa lalu

Keyboard fisik sempat dianggap selesai setelah iPhone hadir pada 2007. Sejak saat itu, tombol fisik perlahan tersingkir dari pasar smartphone dan BlackBerry menjadi simbol paling kuat dari perubahan tersebut.

Namun, jejaknya tidak hilang sepenuhnya. Komunitas penggemar BlackBerry masih bertahan di Reddit lewat r/Blackberry yang memiliki sekitar 25.000 anggota, tempat mereka berbagi tips dan pengalaman seputar perangkat lama itu.

Yang menarik, gelombang baru ini tidak hanya datang dari mantan pengguna BlackBerry. Clicks Technology menyebut 45% basis pelanggannya bahkan belum pernah memakai ponsel dengan keyboard fisik sebelumnya.

Jeff Gadway, salah satu pendiri sekaligus Chief Marketing Officer Clicks Technology, melihat kelompok pengguna itu tidak datang karena rasa kangen. Mereka justru memandang keyboard fisik sebagai cara yang lebih terencana untuk memakai ponsel.

Lebih sulit terseret ke layar

Daya tarik utama ponsel jenis ini ada pada efek “rem” yang muncul saat pengguna mengetik atau bernavigasi. Hambatan kecil itu justru membantu sebagian orang mengurangi kebiasaan membuka aplikasi berulang kali.

Bagi mereka yang ingin menekan screen time, pengalaman memakai ponsel ber-keyboard terasa berbeda. Doomscrolling atau kebiasaan menggulir media sosial terus-menerus juga menjadi kurang nyaman dilakukan di perangkat seperti ini.

YouTuber Chonnie Alfonso, yang kerap menampilkan gadget retro, mengatakan perpindahan ke perangkat ber-keyboard membuatnya berpikir ulang tentang seberapa sering ia menggunakan ponsel. Dari situ, penggunaan ponsel pun menjadi lebih terarah dan lebih mudah dikontrol mengikuti jadwal harian.

Clicks juga sengaja menonjolkan fungsi pesan dan fungsi inti perangkatnya. Tujuannya adalah menjaga pengguna tetap fokus pada tugas, bukan terus terpancing membuka aplikasi lain.

Fitur lama yang kembali dicari

Kebangkitan ponsel ala BlackBerry tidak hanya bertumpu pada keyboard fisik. Sejumlah fitur yang makin jarang ditemukan di smartphone modern ikut menjadi daya tarik tersendiri.

Clicks, misalnya, menawarkan keyboard dalam berbagai bahasa dan penutup belakang yang bisa diganti. Perangkat di ceruk ini juga membawa kembali memori yang dapat diperluas dan jack headphone 3,5 mm.

Bagi Wei Lun Ng, antusias audio berusia 23 tahun, dukungan headphone berkabel masih sangat praktis. Ia menilai koneksi kabel tidak mudah terputus, lebih nyaman saat baterai menipis, tidak gampang hilang, dan juga lebih murah.

Tombol fisik juga memberi manfaat bagi pengguna dengan kebutuhan aksesibilitas. Gadway mengatakan sebagian pengguna dengan gangguan penglihatan atau kendala kontrol motorik merasa lebih mudah mengetik dengan tombol fisik, dan pengguna yang sering salah ketik di layar sentuh merasakan manfaat serupa.

Pasar kecil yang mulai menunjukkan tenaga

Meski tidak kembali menjadi arus utama seperti pada masa kejayaan BlackBerry, segmen ini jelas belum mati. Justru, minat yang muncul cukup kuat untuk menopang bisnis di pasar khusus.

Selain Clicks dan Unihertz, ada Zinwa Technologies dan iKKO yang juga merilis ponsel dengan keyboard buatan mereka sendiri tahun ini. Respons terhadap produk-produk baru itu menunjukkan bahwa ceruk ini punya ruang tumbuh.

Kampanye Kickstarter Unihertz untuk Titan versi kedua menarik lebih dari 8.200 pendukung. Hingga 8 Mei, kampanye itu juga mengumpulkan lebih dari USD 4,8 juta menjelang penutupan pada 13 Mei.

Clicks sendiri mencatat respons yang cepat. Perusahaan itu melampaui target pre-order enam bulannya hanya dalam 30 hari.

Di saat yang sama, tantangan biaya produksi tetap membayangi. Permintaan tinggi terhadap infrastruktur AI ikut membebani pasokan memori dan mendorong kenaikan harga komponen, sehingga tekanan biaya bisa menjadi beban bagi perangkat di segmen ini.

Source: inet.detik.com

Baca Juga

Back to top button