Di tengah deretan program varietas kuliner yang biasanya mengedepankan persaingan, Bonjour Bakery memilih jalur yang lebih tenang. Acara ini menempatkan Kim Seon-ho dan Cha Seung-won dalam sebuah kafe bergaya Prancis yang dirancang untuk pelanggan lanjut usia, sehingga suasananya lebih dekat dengan interaksi sehari-hari daripada adu keterampilan memasak.
Format tersebut membuat Bonjour Bakery menonjol sebagai tontonan yang tidak sekadar berbicara soal makanan. Fokusnya bergeser ke pelayanan, percakapan hangat, dan hubungan antargenerasi yang tumbuh di ruang kafe yang ramah untuk para lansia.
Kafe dalam acara ini membawa konsep Senior Dessert Café. Sasaran utamanya adalah tamu berusia di atas 65 tahun beserta pendamping mereka, sehingga pengalaman yang dibangun terasa lebih lembut dan personal.
Pendekatan itu juga memengaruhi nuansa visual dan ritme acara. Bonjour Bakery tidak dibuat riuh seperti kompetisi memasak pada umumnya, melainkan menghadirkan ruang yang tenang dan dekat dengan kehidupan masyarakat desa di Korea Selatan.
Rakuten Viki menilai kekuatan utama acara ini justru muncul dari kisah para lansia yang hadir di setiap episode. Platform itu menyebut, “Cerita-cerita haru dari para lansia inilah yang menghidupkan setiap episodenya.”
Sebelum kamera mulai merekam, para pemain menjalani pelatihan intensif agar bisa bekerja seperti staf kafe sungguhan. Pelatihan itu mencakup peran baker dan barista, sehingga aktivitas di layar terlihat lebih meyakinkan.
Cha Seung-won ditempatkan sebagai Kepala Pembuat Pastry. Ia mengolah hidangan penutup bergaya Prancis dengan bahan lokal, sementara Kim Seon-ho mengemban tugas sebagai barista yang melayani kopi dan menyambut tamu lansia dengan pendekatan hangat.
Peran lain juga disusun agar operasional kafe berjalan utuh. Kim Hee-ae hadir sebagai Manajer Umum untuk menjaga kenyamanan tamu dan kelancaran pengelolaan, sedangkan Lee Ki-taek bertugas sebagai Asisten Dapur yang membantu produksi roti dan menjaga suasana dapur tetap hidup.
Susunan itu membuat acara terasa seperti kerja sebuah kafe yang benar-benar aktif. Di dalamnya, para pemain harus menyeimbangkan pekerjaan dapur dengan pelayanan yang penuh perhatian kepada para pengunjung.
Daya tarik Bonjour Bakery tidak berhenti pada konsep sosialnya saja. Menu yang disajikan memadukan teknik pastry Prancis dengan bahan-bahan lokal khas perdesaan Korea, sehingga tampil elegan sekaligus menyatu dengan latar tempatnya.
Perpaduan tersebut memberi identitas yang kuat pada program ini. Penonton tidak hanya melihat proses memasak, tetapi juga cara makanan menjadi bagian dari interaksi yang hangat di dalam kafe.
Setiap episode turut menghadirkan bintang tamu misterius yang bergantian membantu di dapur. Kehadiran mereka menambah dinamika tanpa mengubah karakter utama acara yang tetap tenang dan berfokus pada pelayanan.
Dengan latar desa yang asri dan suasana yang menenangkan, Bonjour Bakery diposisikan sebagai tontonan bernuansa penyembuhan. Program ini kini dapat ditonton secara eksklusif melalui Rakuten Viki untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.
Source: mediaindonesia.com